Backburner - Kim Doyoung of TREASURE

Semua berawal dari pertemuan antara Doyoung dan Dira yang tidak disengaja. Atau mungkin, takdir saat itu sedang mencoba bermain dengan keduanya.

Dipertemukan di sebuah toko roti tepat ketika keduanya akan mengambil roti dengan varian yang sama, membawa Doyoung dan Dira menjadi dekat setelahnya. Tak jarang, keduanya berjanji untuk kembali bertemu di lokasi yang sama hanya untuk saling berbagi cerita.

Namun, siapa sangka. Pertemuan keduanya membawa mereka ke dalam sebuah kisah yang rumit, yang bahkan tak pernah Doyoung bayangkan sebelumnya.

Kenal dan menjadi dekat dengan perempuan sebaik Dira, tentu menjadi sebuah hal yang Doyoung syukuri sebelumnya. Namun, perasaan yang tiba-tiba tumbuh diantara keduanya membawa Doyoung ke dalam posisi yang tak pernah terlintas sama sekali dalam pikirannya.

Dira itu.. bagaimana Doyoung menggambarkannya, ya?

Ia perempuan yang baik dengan pembawaan ceria, juga sosok yang menyenangkan untuk berbagi cerita. Oleh sebab itu, berkat kedekatan keduanya selama hampir satu tahun ini, berhasil membawa Doyoung menjumpai perasaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Menyukai kekasih orang lain? 

Doyoung ingin tertawa ketika mengetahui perempuan yang dikaguminya ternyata memiliki tambatan hati. Sebab belum sempat kakinya melangkah, dirinya sudah dipaksa berhenti.

Doyoung mencoba sadar diri. Bahwa perasaan yang tumbuh ketika ia bersama Dira tak boleh menjadi lebih besar lagi.

"Doy!"

"Oh, hai!" 

Senyum itu.. Doyoung membalasnya.

Biarlah, biar seperti ini.

Toh, Dira juga tak tau apa-apa. Jadi, biarlah perasaan ini ia simpan hingga menghilang dengan sendirinya.

"Gimana ngedatenya? Seru?"

Ia mencoba membuka percakapan, sedangkan yang ditanya mengangguk, kemudian menggeleng.

Doyoung melempar tatapan bingung. "Jadi, seru atau enggak?"

Dira menghela napasnya, kemudian mengulas senyum. "Seru, kok. Cuma agak sedih aja."

"Seru tapi sedih, gimana maksudnya?"

"Ya.. seru karena akhirnya gue sama Junghwan punya waktu buat ketemu dan habisin waktu bareng,"

Junghwan.

Iya, kekasih Dira sejak kelas dua SMA.

Lantas, bagaimana bisa seorang Doyoung yang baru bertemu Dira setahun belakangan berani menerobos masuk diantara keduanya?

"...tapi sedih karena udah harus pisah lagi."

Doyoung tertawa pelan melihat perempuan di hadapannya cemberut sambil mengaduk pelan minumannya.

Iya, mereka pernah berjanji untuk bertemu di toko roti setiap minggu sore. Namun sedikit berbeda dengan hari ini karena Dira harus bertemu dengan sang kekasih dan menghabiskan waktu bersama karena Junghwan yang berkuliah di luar kota.

Mengalah? Bukan.

Karena sejak awal, Doyoung sudah kalah.

Awalnya, Dira hendak membatalkan pertemuan keduanya pekan ini, namun Doyoung malah menyarankan agar keduanya bertemu di malam hari.

Untuk apalagi selain melihat wajah sang pujaan hati?

Sebab hanya ini yang bisa Doyoung lakukan guna menumpuk rasa sayang tiap pekannya.

 "Emangnya seminggu ini ketemu dia terus masih belum puas?"

Dira menggeleng kuat. "LDR berat banget ternyata. Gue gak nyangka kalo buat ketemu pacar sendiri harus seribet ini. Gue masih kangen dia, Doy!"

Doyoung tertawa.

Menertawakan Dira yang mengeluh dengan bibir mengerucut? 

Tidak.

Melainkan menertawakan posisinya sekarang.

Mau sampai kapan..? tanyanya pada diri sendiri.

"Kenapa LDR kalo gitu?"

Dira mengendikkan bahunya, kemudian menjatuhkan kepala dia atas meja.

"Gue mana tau kalo bakal gini situasinya. Karena di tahun pertama kita berjarak, semua masih baik-baik aja."

"Yaudah, nikmatin aja."

Sama seperti Doyoung yang menikmati rasa sayang dan sakit yang tumbuh bersamaan di dalam hatinya.

"Karena dengan berjarak gitu, lo jadi bisa ngerasain perasaan excited tiap kali mau ketemu dia."

Sama seperti Doyoung yang juga excited tiap kali bertemu dan mendengar Dira bercerita meski harus menahan sesak di dada.

Menumpukan dagunya di atas meja, Dira mengangguk sambil menatap lelaki di depannya. "Untung gue punya lo disini." 

Doyoung sempat menautkan kedua alisnya sebentar sebelum balik melempar senyum pada Dira. "Iya, untung ada gue."

Bahkan meski gue gak bisa milikin lo, gue bakal selalu ada buat lo.

"Kalo lo sendiri, ada cerita yang mau dibagi?"

Terdiam cukup lama, Doyoung balik bertanya. "...gue?"

Dira mengangguk semangat. "Lo pernah cerita soal cewek yang lo suka. Gimana? Udah berhasil deketin dia?"

"Ah.. itu.." Doyoung menggelengkan kepalanya. "gue mundur." 

Tak langsung melanjutkan, Doyoung memilih menyuapkan potongan kue ke dalam mulut.

"Loh, kenapa? Katanya lo suka banget sama dia, kalian bahkan udah sempet ngobrol beberapa kali, 'kan?"

Doyoung tersenyum. "Dia udah punya pacar, Dira. Gue gak mungkin dong jadi orang ketiga." kekehnya di ujung kalimat, setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja terucap dari bibirnya.

Dira meringis mendengarnya, memilih mengulurkan tangan untuk menepuk pelan bahu lelaki di depannya. "Gue ikut sedih dengernya, tapi tindakan yang lo ambil udah bener, kok. Tenang aja, lo pasti bisa cepet nemu penggantinya."

"...gitu ya?" 

Dira mengangguk mantap. "Pasti! Lo tuh cakep, baik, lucu lagi. Gak mungkin kalo gak ada yang naksir sama lo, Doyoung."

"Jadi menurut lo, keputusan gue buat mundur itu udah bener ya, Dir?"

"Iya. Mungkin emang sakit, tapi lo pasti bakal sembuh setelahnya."

Doyoung mengangguk. Ia bawa tubuhnya berdiri setelah meyakinkan diri. "Kalo gitu, gue pamit ya. Gue mau sembuh soalnya."

"Tiba-tiba?"

Kali ini Doyoung menggeleng. "Gak tiba-tiba, kok. Gue udah pertimbangkan ini sejak bulan lalu dan berkat kalimat lo barusan, gue jadi yakin buat pergi."

"Harus banget pergi?"

Doyoung tertawa mendengarnya. "Iya, Dira. Harus!"

Dira melempar tatapan sedih ke arahnya. "Berapa lama?"

Memiringkan kepala, Doyoung memilih mengendikkan bahu karena belum tau jawabannya.

"Gue bakal sendirian dong disini?!"

Doyoung tertawa dengan tangan terulur guna mengusap kepala perempuan di depannya. "Lo punya temen-temen lo, Dira. Bahkan pacar lo selalu berusaha meluangkan waktunya buat ketemu sama lo. Gak usah lebay gitu, deh!"

"Beda, Doyoung!"

Doyoung menggeleng. "Gak ada yang beda, lo cuma belum terbiasa. Kalo perlu, lo bisa ajak pacar lo mampir ke sini sesekali, gantiin gue, hehe."

Lelaki itu beralih melirik jam di tangannya. "Udah ya, gue pamit. Hari ini gue yang traktir semuanya, jadi jangan sedih."

Belum sempat menjawab, Doyoung mengambil langkahnya. 

Ayo Doyoung, lo bisa. Kayak apa yang dibilang Dira, lo harus sembuh!

Sesampainya di pintu, Doyoung membalikkan tubuhnya. Memperhatikan satu persatu bagian dari toko roti yang menjadi tempat ia menemukan tambatan sekaligus patah hati pertamanya, hingga matanya bertemu tatap dengan Dira.

Tangan lelaki itu melambai diiringi lirihan yang keluar dari bibirnya.

Gue pamit ya, Dira.

Thanks buat semua cerita dan tawa yang udah lo bagi selama setahun ini, gue gak bakal lupain itu semua.

Tapi kali ini gue harus pergi buat sembuh dari semua rasa sakit yang gue bikin sendiri.

Sampai ketemu di waktu yang lebih baik bagi kita, bagi gue.

"See you when I see you."

FIN.

Komentar

Postingan Populer