Jadi Kekasihku Saja - Park Jihoon of TREASURE


"Pagi, Kak Hyunsuk!" 

Hyunsuk yang baru saja menapakkan kakinya melewati gerbang sekolah dikejutkan oleh seruan nyaring yang berasal dari seorang Alethea.

"Uh, pagi." 

Perempuan berstatus adik kelas Hyunsuk itu tersenyum sambil terus menatap ke arahnya.

"Kenapa? Ada yang aneh dari gue?" 

Alethea menggeleng, "Kakak ganteng hari ini." senyumnya semakin lebar. "Eh, gak hari ini doang, sih. Tiap hari juga ganteng, kok!" koreksinya.

Hyunsuk mengedipkan matanya dua kali, bingung harus merespon seperti apa. "...thanks?"

Tak lama, keduanya dikejutkan oleh kemunculan seorang Jihoon yang dengan santainya merangkul Alethea.

"Jahat lo, Le. Gue jemput ke rumah, taunya udah disini." dengus lelaki itu sambil mengatur napasnya.

Merasa canggung, Hyunsuk mencoba menarik diri dari sana. "Ale, gue duluan, ya. Ditungguin Yoshi di ruang OSIS, nih!" tangannya mengayunkan layar ponsel yang mati di hadapan Alethea dan Jihoon, lalu setelahnya pergi dari sana.

Alethea berdecak sambil berusaha melepaskan rangkulan Jihoon. "Lo tuh.. ganggu banget, sih!"

Menghentakkan kaki, Alethea pergi dari sana. 

"Salah gue apa, coba?" monolog Jihoon sambil berusaha mengejar Alethea yang sudah melesat meninggalkannya.

🎐

"Kak Hyunsuk!" 

Alethea dan kemunculannya selalu berhasil membuat jantung Hyunsuk berpacu cepat. Bukan, bukan karena dirinya tiba-tiba jatuh cinta dengan si manis, melainkan kali ini dirinya hampir tersedak bakso karena seruan nyaring milik perempuan tersebut.

"Uhuk.. uhuk!" 

"Eh, minum, Kak. Minum!" Alethea menyodorkan gelas es teh yang ada di atas meja yang langsung disambut Hyunsuk. Selesai dengan agenda tersedaknya, Hyunsuk mendengus pelan.

"Lo tuh kalo muncul, bisa gak jangan ngagetin gitu?! Kalo gue tadi mati gara-gara keselek bakso, gimana?!"

"Hehe, sorry, Kak." Hyunsuk balas berdeham, kemudian kembali fokus pada makanannya.

Menyadari Alethea yang mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin, Hyunsuk kembali bersuara. "Gue kesini sama Yoshi―kalo itu yang mau lo tanyain― cuma anaknya lagi ke toilet." 

Alethea tertawa menyadari Hyunsuk yang mulai tau kebiasaannya. "Hehe, Kak Hyunsuk tau aja."

"Lo sendiri, ngapain disini? Harusnya masih jam pelajaran, 'kan?"

Alethea terkejut, "Kok Kak Hyunsuk tau?!"

Hyunsuk berdecak. "Lo masih pake seragam olahraga, gausah lebay gitu."

Kekehan kembali keluar dari bibir Alethea, namun perempuan itu tak mengalihkan perhatiannya dari wajah Hyunsuk.

"Sana balik, dihukum tau rasa."

"Jahat banget, aku diusir." balas Alethea berpura-pura sedih. 

"Gue juga mau balik ke kelas ini, Yoshi udah chat gue." Hyunsuk menyelesaikan makannya kemudian mengantongi barang-barangnya yang berceceran di meja. "Sana balik lo, kebiasaan banget bolos tiap jam olahraga."

"Gue 'kan kayak gini demi ketemu lo, Kak.." lirih Alethea yang masih sempat didengar Hyunsuk.

Terdiam sejenak, tangan lelaki itu terulur untuk mengusap kepala perempuan di hadapannya. "Gue udah pernah bilang 'kan, ada terlalu banyak hal yang bikin gue gak mau cinta-cintaan dulu. Jadi, daripada lo buang-buang waktu, mending kejar yang lain aja."

Alethea cemberut sambil menatap wajah lelaki yang kini tersenyum ke arahnya. "Gue tuh sukanya sama lo, kenapa malah nyuruh gue cari yang lain?!"

"Le..."

Alethea bangkit dari posisinya, "Gue pastiin, gue bakal bikin lo siap buat ngerasain jatuh cinta gimanapun caranya." setelahnya, perempuan itu berlari keluar dari lingkungan kantin.

Hyunsuk menggeleng, "Let's see, then."

🎐

"Gimana progres lo sama 'kakak ganteng' itu?" kemunculan Jihoon disaat suasana hati Alethea yang sedang buruk benar-benar tidak membantu sama sekali. Terlebih dengan pertanyaan yang baru saja lelaki itu ajukan semakin memperburuk suasana hatinya.

"Lo kalo cuma mau ngejekin gue, mending pergi, deh!" 

"Dih, sensi amat. Kenapa? Ditolak lagi?"

Alethea mendengus. "Masa ya, gue lagi pdkt-in dia, tapi dianya malah nyuruh gue cari yang lain. Dipikir cakep dia begitu?!" kepalanya tertunduk, "Tapi emang cakep, sih.." lanjutnya semakin membenamkan kepala di atas meja.

"Dih?!" cibir Jihoon tak setuju. "Lagian, udah gue bilang. Sama gue aja, Le."

Mendengar itu, Alethea merotasikan matanya. "Kalo tujuan lo ngomong gitu buat menghibur gue, gak mempan, Ji." gumamnya, "Udahlah, pergi aja sana. Ganggu orang lagi galau aja!"

"Yaudah," Jihoon bangkit dari posisinya, "nanti bilang kalau galaunya udahan. Mau gue ajak makan nasgornya Mang Ujang di gang depan."

"AYOK!" tiba-tiba Alethea sumringah mendengar tujuan kemunculan lelaki di hadapan.

Jihoon memiringkan kepalanya, "Bukannya masih galau?" 

"Galaunya bisa nanti, makan nasi goreng Mang Ujang dijajanin sama lo, kapan lagi!" perempuan itu beralih menarik lengan Jihoon untuk keluar dari kamarnya.

Jihoon menggelengkan kepalanya. Alethea itu, ajaib!

🎐

"Kak Yoshi!" Alethea melambai ke arah Yoshi yang baru keluar dari ruang OSIS. "Kak Hyunsuknya ada?" lanjutnya setelah berdiri di hadapan lelaki pemilik sorot serupa kucing itu.

"Uh, gak ada, Le. Lagi keluar doi, nganterin surat lomba ke sekolah sebelah." Yoshi mengusap belakang kepalanya melihat Alethea yang awalnya sumringah mejadi tertunduk.

"Ada perlu apa emangnya? Nanti gue sampein deh!" tawarnya.

Alethea menggeleng, menyembunyikan sesuatu yang dibawanya ke belakang tubuh. "Gak usah deh, Kak. Lain kali aja kalo gitu. Makasih Kak Yoshi!" 

Membalas lambaian Alethea yang eksistensinya perlahan menghilang di ujung lorong, Yoshi menghela napas lega. 

"Udah pergi anaknya?" 

Untuk kedua kalinya, Yoshi tersentak. "Anjir, lo!"

"Hehe. Peace, bro!

Merotasikan matanya malas, Yoshi mendesis. "Kenapa gue harus terlibat dalam urusan 'asmara' lo?!" 

Hyunsuk yang diberi pertanyaan begitu mendengus, "Mana ada urusan asmara, gak usah bikin rumor!"

Yoshi memberikan tatapan menyelidik, "Terus, kenapa harus menghindar? Pake nyuruh gue bohong lagi!"

Hyunsuk menyengir, beralih merangkul bahu lelaki itu untuk diajak menuju kantin. "Gue.. risih? Gak tau, deh! Intinya, gue gak enak kalo nolak dia terus-terusan, tapi anaknya keliatan gak ada capeknya."

"Kenapa gak coba jalanin dulu kalo gitu?"

"Andai segampang itu, Yosh.."

Yoshi menghela napasnya, menepuk dua kali bahu lelaki dalam rangkulannya. "Lo bisa kok, pasti! Makanya, move on, dong!"

Hyunsuk balas berdecak, menyentak rangkulan Yoshi dan berjalan cepat meninggalkan manusia setengah kucing itu. "Sialan lo!" dengusnya yang disahuti Yoshi dengan tawa.

🎐

"Nih, buat lo!" 

Jihoon berkedip dua kali. Dirinya tengah fokus dengan materi di tangan ketika Alethea tiba-tiba muncul dan menyodorkan kotak berisi makanan lalu kemudian berbalik menjatuhkan kepala ke atas meja miliknya.

"Widih, dalam rangka apa, nih?" tangan lelaki itu bergerak menutup buku di tangan dan beralih membuka kotak bekal di hadapan.

"Kak Hyunsuk gak ada, jadi bekalnya buat lo aja."

Hyunsuk lagi.

Jihoon berdecak, "Thanks." tangannya kembali menutup kotak bekal tersebut lantas beralih fokus pada bukunya―lagi.

Mendapat respon begitu, Alethea membalikkan tubuhnya untuk menatap lelaki yang kini mengenakan kacamata untuk membaca satu persatu kalimat di dalam buku materinya.

"Gak jadi dimakan?"

Jihoon berdeham, "Nanti aja, masih kenyang." 

Alethea memiringkan kepalanya untuk meraih atensi lelaki yang masih fokus pada bukunya. "Lo.. marah, ya?"

"Ji?"

"Jihoon!"

Yang diseru namanya berdecak, meletakkan buku kemudian menatap tajam perempuan di hadapan. "Peduli apa lo sama perasaan gue?" dengusnya, "Udahlah, balik ke meja lo sana. Gue mau belajar, nih!"

Alethea cemberut, namun tetap menurut. "Jangan lama-lama marahnya.." lirihnya yang dibalas Jihoon dengan dehaman.

"Ish!" tak peduli, Alethea kembali menjatuhkan kepala ke atas meja tanpa menyadari jika Jihoon masih memperhatikan gerak-geriknya sambil menggelengkan kepala.

Ale.. Ale.. udah gue bilang, sama gue aja.

🎐

Masih di hari yang sama, sepulang sekolah Alethea melangkah pelan menuju gerbang dengan kepala tertunduk. Hari ini ia tak berhasil bertemu Hyunsuk dan Jihoon pun meninggalkannya sendirian untuk pulang duluan.

"Hhh.." sudah ke sekian kalinya seorang Alethea menghembuskan napas. Lantas, di langkahnya yang ke sekian, ia dihadang oleh seseorang.

"Eum.. halo?" 

Alethea mengerutkan kening, "Iya, cari siapa, Kak?"

Jika Alethea tak salah menebak, perempuan yang kini berdiri di hadapannya memang lebih tua darinya. Namun jika salah, maafkan Alethea karena tak mampu menilai penampilan seseorang dengan baik.

"Itu.. gue mau ketemu seseorang, tapi belum janjian sama dia. Gue boleh tanya sama lo? Ya.. barangkali lo kenal sama orangnya, gitu." perempuan itu melempar senyum canggung sambil mengulurkan tangan, "Oh iya, kenalin. Gue Bitna."

Alethea mengangguk, membalas uluran tangan perempuan bernama Bitna itu. "Gue Ale."

"Salam kenal, Ale." Bitna menarik uluran tangannya. 

Lagi, Alethea mengangguk. "Kak Bitna cari siapa? Kalo gue gak salah sangka sih, lo bukan orang sini." dari cara berpakaiannya pun Alethea bisa mengenali jika perempuan ini memang terlihat baru kembali dari suatu tempat dan terburu-buru untuk sampai disini guna menemui seseorang yang tadi Bitna maksud.

"Iya, gue baru balik dari suatu tempat dan langsung buru-buru kesini. Keliatan banget ya berantakannya?" Bitna tertawa canggung dan berusaha merapikan penampilannya yang segera dibalas oleh Alethea dengan gelengan. "Eh, gapapa kok, Kak. Wajar. Mungkin emang penting banget makanya harus buru-buru gini."

Bitna mengangguk mengiyakan. "Gue cari Hyunsuk. Harusnya sih anak-anak sini kenal dia karena kabar terakhir yang gue denger, dia ketua OSIS di SMA ini."

Hyunsuk? Siapa sebenarnya Bitna ini?

"...halo?" telapak tangan Bitna melambai di depan wajah Alethea yang tiba-tiba terdiam. "Lo.. gak kenal, 'kah?"

Meski masih sedikit terkejut, Alethea berusaha tak berpikir buruk terlebih dahulu. "Eh, kenal kok, Kak. Siapa juga yang gak kenal Kak Hyunsuk." lirihnya di ujung kalimat. 

Bitna yang mendengar itu tersenyum. 

"Ada perlu apa emangnya, Kak?" 

Merasa tak akan memperoleh jawaban karena Bitna hanya terus tersenyum, Alethea balas tersenyum sambil mengangguk. 

"Kak Hyunsuk kayaknya bentar lagi beres sama rapatnya, gue juga harus buru-buru pulang karena temen gue tadi ngambek. Kalo gue tinggal, gapapa, Kak?" 

"Eh, gapapa, gapapa. Maaf banget malah jadi nahan lo disini." Alethea menggeleng tak setuju. "Kalo gitu gue duluan ya, Kak. Seneng bisa ngobrol sama Kak Bitna."

"Gue juga seneng bisa ngobrol sama lo." Bitna tersenyum semakin lebar, "Semoga bisa cepet baikan ya sama temen lo, semangat Ale!" kedua tangan perempuan itu mengepal di depan wajah yang dibalas Alethea dengan anggukan.

"Dah, Kak!" 

Tak lama setelah Alethea pergi dari sana, Hyunsuk dan Yoshi muncul.

Bitna menatap keduanya dengan senyum di wajah. "Long time no see!"

🎐

"Pagi, Kak Hyunsuk!" 

Sapaan ke sekian kalinya dari seorang Alethea tiap kali perempuan itu bertemu dengan Hyunsuk di gerbang sekolah. Namun, baru kali ini Hyunsuk membalas sapaannya dengan senyum sumringah.

"Oh, pagi juga, Ale!"

Kedua alis Alethea naik mendapat respon yang begitu ramah dari sang kakak kelas. "Kak Hyunsuk lagi happy, ya? Ada sesuatu, Kak?"

Hyunsuk masih tersenyum, namun kepalanya mengangguk. "Gue duluan ya, Le. Mau ngecek ruang OSIS dulu sebelum ke kelas."

Di langkah keduanya, lelaki itu berbalik. "Anyway, makasih ya, Le." setelahnya, Hyunsuk kembali melanjutkan langkah dan meninggalkan Alethea dengan wajah bingungnya.

"Huh?"

🎐

"Kak Hyunsuk!" seruan nyaring seorang Alethea yang baru saja mendudukkan diri di hadapan Hyunsuk dan Yoshi yang asik menyantap makanan mereka sambil mengobrol berhasil membuat kedua lelaki itu menghentikan kegiatan mereka sejenak.

"Hai, Ale. Kabur lagi?" Hyunsuk membalas sapaannya dengan tanya.

Alethea menyengir. "Kali ini gak kabur, kok. Tadi udah izin mau ke toilet sama guru."

Yoshi mengangguk menanggapi, "Toilet sekarang pindah ke kantin ya, Le? Atau.. pindah ke mukanya Hyunsuk?"

Lelaki yang disebut namanya mendelik, "Anjing, lo!"

Alethea tertawa. "Enggak kok, Kak. Emang beneran dari toilet, tapi mampir ke sini karena ngeliat Kak Hyunsuk."

"Ooh, yang diliat cuma Hyunsuk doang.. cukup tau, sih." Yoshi dan mulut pedasnya.

"Eh, gak gitu maksudnya, Kak Yosh!" Alethea kelabakan menanggapi candaan Yoshi yang dibalas lelaki itu dengan tawa. "Gapapa kok, Le. Gue paham."

Alethea tersenyum canggung menanggapinya.

Melihat perempuan itu tak kunjung pergi, Yoshi kembali bertanya. "Lo ada perlu sama Hyunsuk? Gue perlu pergi gak, nih?"

Alethea menggelengkan kepala kuat sambil melambaikan tangan di depan wajah. "Enggak kok, Kak. Ini juga mau balik ke kelas." perempuan itu bangkit dari duduknya, namun tertahan oleh panggilan sang lelaki pujaan.

"Bentar, Le." 

"Iya, Kak Hyunsuk. Kenapa?" Alethea dan cengiran khasnya.. Yoshi tak yakin Hyunsuk perlu menyampaikan hal yang baru saja mereka bicarakan, namun akan semakin buruk jika sang adik kelas tak segera diberi peringatan.

"Gue mau ngobrol bentar, bisa?"

"Bisa banget, kak!" balas Alethea semangat.

"Yosh?" mengerti, lelaki yang disebut namanya segera beranjak dari sana. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berbisik pada Alethea. 

"Semangat, Le. You deserve better than him."

"...huh?"

🎐

"Gue.. pernah bilang 'kan sama lo soal ada terlalu banyak alasan yang bikin gue gak mau berurusan sama cinta-cintaan dulu?"

Alethea mengangguk. Ia merasakan firasat buruk sejak Yoshi memberinya semangat lima menit lalu.

"Dan alasan itu udah pulang, Le."

"Eh, gimana, Kak? Jujur, gue gak paham." 

Mungkin, Alethea paham. Namun, ia menolak untuk mengerti.

Mendengar itu, Hyunsuk kembali tersenyum. "Gue disini cuma mau bilang makasih." tangannya terulur untuk menggenggam tangan Alethea yang diam-diam gemetar. "Makasih karena semua usaha lo sekarang berbuah hasil."

Alethea masih diam, mencoba mencerna apa yang tengah Hyunsuk coba sampaikan.

"Temen kecil gue, dia balik. Dan ya, lo tau setelahnya." lelaki itu mengurai genggamannya, namun senyum di wajahnya masih terpatri.

"Jangan bilang..."

Hyunsuk mengangguk.

"Makanya, disini gue mau bilang makasih atas semua usaha lo buat bikin gue berani ngerasain yang namanya cinta lagi."

"Kak.." Alethea menggeleng, ia tak mau mendengar kelanjutannya.

"Sorry ya, Le. Tapi Yoshi bener. Lo deserve better. Better than me, malah!"

Alethea bangkit dengan mata memerah. "Lo brengsek, Kak!"

Lagi, Hyunsuk mengangguk. "Thanks, Le." ia ikut berdiri, kemudian melangkah mundur meninggalkan Alethea yang masih mencoba menahan tangisnya.

"Sialan!"

🎐

Alethea masuk ke kamar Jihoon sambil membanting pintu. Setelahnya, ia menjatuhkan tubuh ke atas ranjang lelaki itu.

"Hyunsuk brengsek!"

Jihoon yang sempat tersentak berubah menatap malas ke arahnya. "Kenapa lagi? Ditolak? Atau dia punya yang baru?"

Alethea membalikkan tubuhnya, memberi tatapan menyelidik ke arah Jihoon. "Tau dari mana lo?!"

Lah? 

"Jadi bener?" padahal, Jihoon hanya asal menebak. Karena penyebab murungnya seorang Alethea tak pernah jauh dari hal terkait Hyunsuk.

"Kasian amat ditolak mulu." lelaki itu kembali beralih pada komiknya. "Padahal gue sering bilang, sama gue aja." lanjutnya sambil menggelengkan kepala.

Alethea berdecak. "Gue juga udah sering bilang, kalo lo ngomong kayak gitu cuma buat bercanda, mending udahan, Ji."

Menoleh, Jihoon meletakkan komiknya ke atas meja. "Emangnya gue pernah bilang kalo gue bercanda?" ia bersedekap, kemudian memutar kursi menghadap Alethea.

"Isi kepala lo tuh cuma Hyunsuk, Hyunsuk, dan Hyunsuk. Makanya lo gak pernah anggap omongan gue serius."

"...Ji?"

Jihoon mendengus. "Udahlah, Le. Kita baru baikan, jangan sampe berantem lagi gara-gara ini." ia kembali meraih komiknya, mengalihkan fokus dari Alethea yang terus menatapnya.

"Ji, jelasin." perempuan itu bangkit dari posisinya, menarik lengan Jihoon dan membuat komik di genggaman lelaki itu terjatuh.

"Buat apa? Toh, semua yang gue bilang cuma lo anggap bercanda." Jihoon menunduk, meraih komiknya di lantai kemudian meletakkannya ke atas meja.

Melihat Alethea yang masih tak berpindah dari posisinya, Jihoon menepuk pelan bahu perempuan di hadapan.

"Sana, balik galau lagi aja. Nanti gue ajak makan nasgor kalo galaunya udahan." 

Alethea menggeleng. "Mau udahan aja."

"Apanya?"

"Galaunya."

Jihoon tertawa, "Kenapa? Karena nasi gorengnya?"

Alethea menggeleng lagi. "Maaf.." kini kepalanya tertunduk membuat Jihoon kembali bingung dibuatnya.

"Kok gak nyambung sih, Le?"

Alethea cemberut, "Jihoon, maaf.." ia menggoyangkan lengan lelaki di hadapan yang masih bergeming menatapnya.

"Maaf kenapa?" tanya jihoon. "Karena suka sama Hyunsuk, karena gak pernah percaya omongan gue, atau karena selalu lari ke gue tiap kali Hyunsuk bikin lo kecewa?"

Mendengar hal tersebut, Alethea semakin menundukkan wajahnya. Tangannya juga perlahan melepaskan genggamannya pada lengan Jihoon.

"Jangan nunduk," tangan Jihoon terulur untuk meraih dagu Alethea agar perempuan itu kembali mengangkat wajah dan menatapnya. "jawab dulu coba. Biar gue tau, lo minta maaf buat yang mana."

Tak kunjung mendapat jawaban, Jihoon menggelengkan kepala. Tangannya terulur untuk meraih Alethea masuk ke dalam dekapan.

"Gapapa, gue gapapa." telapaknya mengusap pelan kepala sang pujaan. "Gue yang lebih dulu menawarkan diri buat jadi tempat lo pulang tiap kali lo sedih. Gapapa, Ale."

"Ajarin gue," Jihoon menautkan alis mendengar gumaman Alethea dalam dekapan. Perempuan itu perlahan mengurai pelukan untuk menatap wajah sang teman. "gue tau rasanya berjuang dan itu capek, Ji."

"Jadi, ajarin gue buat suka balik sama lo."

Jihoon tertawa mengejek, "Lo bercanda?"

Alethea menggeleng. "Gue yakin, gue juga punya perasaan sama lo walau cuma sedikit. Makanya, kalo lo mau berusaha bareng gue sedikit lagi aja, gue yakin gue bisa lupain perasaan yang gue punya ke Kak Hyunsuk."

"Oh, ya?"

Alethea berhasil dibuat berdecak lewat dua kata tersebut. Jihoon dan sikap menyebalkannya memang selalu berhasil membuat Alethea sebal padanya. Namun, Alethea kini menyadari jika Jihoon dan segala sifat menyebalkannya selalu berhasil membuatnya kembali menebar tawa. 

"Hahaha, iya-iya." Jihoon kembali mengeratkan pelukannya. "Apa gue bilang, Le. Sama gue aja."

Alethea mengangguk, "Iya, Jihoon. Gue sama lo aja."

FIN.

Komentar

Postingan Populer