Love, Maybe? - Watanabe Haruto of TREASURE
Sebuah pagi yang cerah bagi Haruto, bocah blasteran Belanda-Jepang kelahiran Solo sembilanbelas tahun lalu harus dirusak oleh satu kalimat yang keluar dari bibir sang ibu.
"Dek, nanti ojo lali jemput Masmu ning bandara."
Haruto yang kembali diingatkan ketika dirinya tengah menikmati sarapan dibuat mendengus pelan. "Nggih, Mami." lagian si Rafa gak dijemput juga tetep bisa sampe ke rumah kok, manja bener! namun hanya mampu terucap di dalam hati daripada harus ditempeleng sang ibu di pagi hari.
"Ojo nganti lali loh ya, jam sepuluh!"
Kini Haruto tak lagi menahan diri untuk melempar senyum sebal ke arah sang ibu yang berlalu keluar menuju halaman, menunaikan kebiasaan menyiram tanaman setiap pagi.
Kembali fokus pada sarapan dan tontonan di tv, Haruto lagi-lagi mendengar lagu milik Taylor Swift terputar di rumah sebelah. Dirinya ingat jika tempo hari sang ibu mengatakan bahwa rumah kosong di samping rumah mereka telah dihuni sepasang suami-istri dan satu putri mereka yang mungkin seusia Haruto atau Rafael—kakaknya.
Haruto berdecak, "Itu anak tetangga Swiftie garis keras apa gimana, dah? Lucu bener tiap pagi muter lagunya Taylor." cibirnya. Namun, kepalanya sesekali ikut mengangguk dengan bibir yang diam-diam menggumamkan lirik yang terputar.
Tanpa sadar sebuah ide terlintas di kepalanya, "Ajak kenalan kali, ya?" sambil menyuapkan nasi uduk terakhirnya.
Maka,
begitu selesai dengan sarapannya, Haruto bawa tubuhnya melangkah menuju
teras, duduk di kursi yang ada sambil menatap ke halaman rumah sebelah
dengan senyum di bibirnya.
Menoleh ke arah sang ibu yang asik bersenandung ketika merawat anak-anaknya, Haruto berseru. "Mi, sampun kasih sesuatu ning umah sebelah?"
Yang dipanggil menoleh, "Sampun wingi. Lapo? Mau kenalan sama anaknya, tha?" goda sang ibu yang langsung dibalas gelengan keras.
"Ya barangkali belum.." balas Haruto seadanya.
"Halah kamu itu." sang ibu beralih meletakkan selang setelah mematikan kran kemudian duduk di sisi sang putra.
"Tapi Dek, wingi Mami ketemu anaknya, ayu banget. Bisa kali ya dijodohin sama kamu atau Mas Rafa."
Dih, Rafa dibawa-bawa!
"Rafa lho wis nduwe pacar."
Mami mengangguk karena anak sulungnya itu memang pernah membawa seorang perempuan ke rumah untuk diperkenalkan sebagai pacar. "Yowis, sama kamu mawon."
"Mi?!"
Yang diseru tertawa. "Bercanda. Kenalan aja dulu, soal gimana nantinya ya jadi urusan nanti." Mami bangkit dari posisi, bersiap masuk ke rumah.
"Tapi kalo beneran jadi pacarmu, Mami setuju, kok."
Sejak awal Haruto memang berencana untuk berkenalan, tapi kalimat yang barusan keluar dari bibir sang ibu malah membuatnya kepikiran.
Ada-ada saja!
"Dek, mandi sana. Siap-siap jemput Mas Rafa!"
Lagi, Haruto kembali dibuat mendengus dengan kalimat ibunya.
"Nggih Mami, nggih!"
Segera ia bawa tubuhnya bangkit dari posisi, melaksanakan perintah sang ibu sebelum diseru kembali.
Soal anak tetangga, biarlah nanti Haruto pikirkan lagi.
🌙
"Ini anaknya mana lagi? Suwi tenan!"
Haruto menolak masuk bandara dan memilih menunggu di parkiran setelah menghubungi sang kakak. Biarlah kakaknya yang seperti bang toyib itu kebingungan mencari dimana mobilnya terparkir.
Dan matanya berhasil menemukan seorang Rafael yang menggeret koper sambil mendumal pelan dengan mata yang masih melirik ke sana-sini karena bingung.
Haruto tertawa, "Mesakne." ia membuka pintu mobil dan keluar, membuat tubuh tingginya dengan cepat dikenali Rafael yang dibuktikan dengan lelaki itu berlari cepat ke arahnya.
"Asu tenan anak e Pak Ifan!" tangan lelaki yang lebih tua menoyor pelan kepala sang adik, "Aku ki arep istirahat, sempet-sempetnya ngerjain!"
"Hahaha, sorry." balas Haruto tanpa rasa bersalah, namun mempersilakan sang kakak untuk masuk ke mobil selagi ia membereskan bawaannya.
Setelah selesai, Haruto ikut masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin agar mereka bisa segera pulang karena sang ibu sudah merindukan kakaknya dan dirinya juga merindukan ranjang empuknya.
Merasa terlalu hening karena Haruto melihat jika Rafael tertidur, ia memilih menyalakan musik yang ternyata bluetoothnya masih terhubung dengan ponsel miliknya sehingga lagu yang kini terputar berasal dari playlist ponselnya.
"Wis rong taun ra ketemu, playlistmu masih ini?" suara Rafael sedikit mengejutkan Haruto yang tengah jamming mengikuti lagu yang terputar.
"Opo seh? Sewot tenan!"
"Playlistmu kui lho, Taylor mulu."
Haruto tak menanggapi, memilih kembali bernyanyi dengan suara beratnya hingga dirinya teringat sesuatu. "Raf, inget rumah di samping rumah kita, ora? Minggu lalu ono sing pindah."
Rafael yang memejamkan mata melirik, "Sing kosong kui?" tanyanya yang diangguki Haruto.
"Ya terus kenapa? Ono wedhok ayu?"
Haruto kembali mengangguk, kemudian menggeleng. "Gak tau juga sih, belum ketemu. Tapi jere Mami ayu, kok."
"Tenane?!" seru Rafael yang membuat Haruto mendelik karena terkejut.
"Santai, weh!"
Rafael tak peduli, "Tak ajak kenalan kali ya?"
Haruto melirik malas, "Mulai.." yang dibalas Rafael dengan cengiran menyebalkan.
"Konsepku 'kan perkuat pusat tapi perbanyak cabang, Ru."
"Nek putus karo pacarmu, tak mampusin."
"Asu we!" Rafael menggeleng. "Bercanda kok, Ru. Arep mbok pdkt-in po? Aku arep kenalan thok, kok. Don't worry."
"PRET!"
Rafael memberikan cengirannya pada sang adik yang masih terlihat kesal. "You got my back, Bro. Paling tak guyu sithik nek gagal."
"Asu lah, Raf. Bali asrama meneh kono!"
Puas sudah Rafael menertawakan adiknya.
🌙
Hari yang lain di akhir pekan, Haruto masih belum bertemu muka dengan si anak tetangga. Berbeda dengan Rafael yang sudah berhasil mengobrol menurut cerita sang ibu seolah keduanya adalah teman lama.
Haruto yang baru bangun beranjak keluar dari kamar guna mencari segelas air putih sambil meneliti seisi rumah yang terlihat sepi. "Pada kemana deh?"
Ia bawa kakinya melangkah menuju halaman dan malah menemukan Pak Ifan—sang ayah— yang terlihat tengah mencuci mobil.
"Walah, cah bagus agek tangi. Sini, bantu Papi cuci mobil." tangan sang ayah yang berlumuran busa sabun melambai yang dibalas Haruto dengan anggukan kemudian turun untuk membantu.
"Rafa kemana, Pi?"
"Biasa, lari pagi sambil ngancani Mami belanja."
Haruto mengangguk, meraih lap kering untuk mengusap permukaan mobil meski matanya sesekali melirik ke rumah sebelah yang sayup-sayup terdengar lagu dari sana.
Swiftie.. kepalanya menggeleng namun bibirnya tersenyum, membuat dirinya diberi tatapan aneh dari sang ayah.
"Kenapa kamu? Mesem-mesem gitu ngeliatin rumah orang."
Haruto menggeleng yang diberi cibiran oleh sang ayah. Namun lelaki sembilanbelas tahun itu dikagetkan ketika sang ayah tiba-tiba berseru memanggil seseorang.
"Mriki cah ayu!" tangan lelaki paruh baya itu ikut melambai ketika yang dipanggil terlihat kebingungan.
Setelah paham, yang dipanggil mendekat, membuat Haruto melotot setelah paham maksud sang ayah sedangkan lengannya lebih dulu ditarik untuk mendekat ke sisi pagar sebatas pinggang yang membatasi sisi rumah mereka. "Ini, anak Om mau kenalan katanya."
Haruto menoleh ke arah sang ayah dengan gerakan cepat, "Kapan Ruto bilang gitu?" dirinya berseru dengan suara tertahan yang dibalas dua kali tepukan bahu dari sang ayah yang malah beranjak dari sisinya.
Haruto menghembuskan napas pelan sambil melempar tatapan tak enak pada perempuan di depannya.
"Hai.."
🌙
Sepertinya, Haruto salah sangka. Ia kira, akan sulit untuk bicara dan akrab dengan anak tetangga. Namun nyatanya, kini keduanya telah duduk bersisian di kursi teras rumahnya ditemani sepiring kue basah yang dibeli sang ibu sepulang dari pasar.
Mengobrolkan banyak hal terlebih terkait playlist Taylor Swift yang keduanya miliki berhasil membangun chemistry yang cocok diantara mereka hingga kemunculan Rafael yang baru saja selesai mandi setelah agenda lari paginya membuat Haruto mendengus malas.
"Heh bocah, kui anak uwong isih durung dianter mulih, mengko digolek'i loh." ucapnya sih begitu, tapi malah ikut mendudukkan diri di lantai bersandar pilar setelah menyomot sepotong nagasari di atas meja.
"Hai, Tara." sapanya yang dibalas anggukan oleh si pemilik nama.
"Aku baru tau kalo kalian adik-kakak soalnya aku gak pernah liat kalian keluar bareng, tapi kalo liat salah satunya pernah. Jadi aku pikir Om sama Tante cuma punya anak satu padahal kalo diperhatiin kalian tuh ada bedanya walaupun mirip." perempuan itu tersenyum, membuat Rafael diam-diam melirik sang adik yang ternyata fokus mendengarkan dengan senyum di wajah.
Rafael mengangguk, "Kalo yang kamu liat itu keluarnya pagi-pagi, berarti kamu liat aku persiapan lari pagi. Tapi kalo yang kamu liat keluarnya siang atau sore, berarti kamu liat tuh bocah siap-siap cari jajan."
Tara mengangguk paham, menyadari bahwa memang ia sering melihat keduanya namun karena tak pernah benar-benar terlihat berdua sehingga mengira keduanya adalah satu orang yang sama.
"Oh iya, aku tadi denger kalian ngomongin Taylor Swift, ya?" yang ditanya kembali mengangguk, "Iya. Rafa gimana, suka juga?"
Rafael menggeleng, "Yang swiftie tuh Ruto, kalo aku cuma randomly listener aja. Mana lagu yang lewat dan ternyata suka, bakal masuk ke playlist."
Tara kembali mengangguk ketika menemukan perbedaan diantara dua lelaki berstatus kakak beradik ini. Matanya melirik ke arah matahari yang mulai meninggi dan ia menyadari jika sudah terlalu lama berada di sini.
"Eh, kalo gitu aku balik dulu, ya. Lain kali kita ngobrol lagi."
Kedua lelaki yang diajak bicara mengangguk, namun yang lebih tua kembali angkat bicara. "Pulangnya biar dianter Ruto, ya."
Haruto menoleh tak paham pada sang kakak yang malah mengerlingkan mata.
"Loh, gak usah. Cuma di sebelah kok ini, gak perlu nyebrang."
Rafael mengangguk, "Karena cuma di sebelah, makanya harus dianterin. Biar Ruto sekalian ngomong sama tante karena udah terlalu lama nyulik anaknya."
Lelaki itu beralih berdiri di sisi sang adik untuk membisikkan sesuatu, "Sana anterin, mbok'an kamu nanti dapet restu." tangannya mendorong bahu sang adik yang masih belum bereaksi.
"Yaudah, ayok Ruto." ajak Tara yang kemudian diangguki Haruto.
Namun baru beberapa langkah keduanya meninggalkan teras, Rafael berseru, "You got my back, Bro!"
"Cah gendheng!"
🌙
"Jadi, gimana? Beneran suka opo mung sir thok?" Haruto yang baru selesai mengunci pagar langsung diinterogasi. Tangannya ditarik untuk duduk di sisi Rafael yang siap mendengarkan kisah cinta-cintaan sang adik.
"Opo seh, kepo!"
Mendaratlah sebelah tangan Rafael di kepala Haruto. "Mbok tenanan tho, arep tak tikung po piye?"
"Mbuh, lah!" Haruto beranjak masuk, menghindar dari segala pertanyaan nyeleneh Rafael guna menuntaskan rasa penasarannya.
Lagipula, Rafael mengharapkan apa dari dua orang yang baru saja bertemu dan mengobrol hari ini.
Namun, Haruto tak berusaha menyembunyikan rasa senangnya setelah berhasil berkenalan, mengobrol dan menemukan bahwa terdapat beberapa kesamaan antara dirinya dan Tara.
Suka? tentu saja jawabannya iya.
Tapi, love.. maybe?
FIN.
p.s. Happy Birthday Park Jeongwoo!!!

Komentar
Posting Komentar