Penjaga Hati - Park Chanyeol of EXO


 ❝Karena bersamamu semua teraa indah
 Gundah gulana hatiku t'lah hancur sirna

Park Chanyeol namanya. Lelaki kelahiran Bandung, 27 November 25 tahun lalu yang hingga kini masih betah melajang setelah putus cinta tepat di hari wisuda.

Miris? Tentu saja.

Sebab siapa sangka, di hari terbaiknya, dirinya juga harus melepaskan sang kekasih tercinta.

Tapi tak apa. Chanyeol percaya jika setiap orang ada masanya. 

Mungkin, memang cukup sampai disana sang kekasih hati menemani langkahnya. Karena barangkali, akan ada sesuatu yang lebih indah di masa depan yang tengah menantinya.

Bukan tak sedih pun kecewa, namun Chanyeol hanya mencoba menerima. Toh, meski dipaksa, sudah tak ada lagi alasan bagi ia dan mantan kekasihnya untuk tetap bersama.

"Iya, ini gue lagi beresin barang."

Oh, itu suara Chanyeol yang menyahuti panggilan dari ujung sambungan.

"Iya, nanti gue pasang alarm biar gak telat."

"Iya-iya, bawel amat!" Chanyeol menutup panggilan, beralih merebahkan diri di sudut ranjang sebab tempat tidurnya kini dipenuhi oleh berpotong-potong pakaian.

Matanya melirik ke sudut ruangan dimana kopernya tergeletak dengan posisi terbuka, kemudian kembali menatap tumpukan barang di atas ranjang.

"Pergi dua hari kalo bawaannya sebanyak ini bisa kena gaplok gue nanti." 

Chanyeol menyadari bahwa dirinya hampir membawa seisi lemari hanya untuk memenuhi agenda liburan selama dua hari.

"ARGH!" Chanyeol mengacak rambutnya, memilih menggulingkan tubuhnya semakin ke sudut ranjang.

Sudahlah!

Biar hal itu nanti Chanyeol pikirkan.

Kini, biarkan dirinya beristirahat sebentar setelah lelah mengacak-acak seisi kamar.

Berdoa saja semoga mama tidak masuk dan berakhir mengamuk setelah melihat kondisi kamar putranya yang berantakan.

🍒

"UWAAAH!"

Chanyeol menggeleng melihatnya. 

Itu Wendy. Perempuan yang ada di seberang panggilan kemarin, juga perempuan dengan gelar 'bawel' pemberian Chanyeol sejak tahun pertama mereka berteman.

"Kalo lo hanyut dibawa ombak, gue ketawain loh, Cil!"

Yang diseru menoleh, melempar tatapan tak suka atas panggilan yang selalu disematkan Chanyeol.

Wendy memutar langkah, berlari ke arah Chanyeol dengan segenggam pasir di tangan. "Stop. panggil. gue. bocil!" dilemparlah pasir tersebut ke wajah si lelaki.

"Anjir!" 

Setelah berhasil membersihkan sisa pasir di wajah dan rambutnya, Chanyeol menatap tajam ke arah perempuan setinggi bahunya itu yang tengah bersiap melarikan diri.

"Kabur lo sekarang atau gue tangkep dan gue ceburin ke laut?!"

Wendy mengambil langkah mundur, "Lo bercanda 'kan, Chan?"

Chanyeol tertawa sinis, "Menurut lo aja."

Satu langkah Chanyeol mendekat, dua langkah Wendy mundur.

"Gue kasih lo kesempatan buat lari, Cil. SATU!"

"Gak usah macam-macam, gue gak bisa berenang, Chanyeol!"

"Bodo amat. Biarin aja lo hanyut dibawa Ratu Pantai Selatan!"

"BRENGSEK!"

"DUA! TIGA! Times up, Cil." Chanyeol berhasil meraih lengan perempuan itu, "Let's say goodbye to the opportunities that you wasted!"

Chanyeol meraih tubuh itu ke dalam gendongan dan dibawanya menuju bibir pantai.

"Don't you wanna say 'sorry'?" Chanyeol sudah bersiap mengayunkan tubuh yang ada di gendongannya, namun kerah kaosnya digenggam erat oleh Wendy.

"NOPE!"

Mendengar itu, Chanyeol mengangguk tenang. Diraihnya salah satu tangan perempuan di gendongan agar melepaskan cengkramannya, kemudian kembali ia ayunkan tubuh yang lebih muda.

"PARK CHANYEOL!"

"You just need to say 'sorry' and this will never happen, Cil!"

"Kalo gitu harusnya lo juga say 'sorry' ke gue karena gue gak suka dipanggil Bocil!"

"I've never said that 'Cil' meaning is 'bocil'."

"Ya terus apa, CHANYEOL!" seruan tiba-tiba itu keluar dari bibir si perempuan ketika Chanyeol kembali mengayunkan tubuhnya saat ia menyadari bahwa air laut hampir mencapai pinggang lelaki itu.

"Lo mau minta maaf atau kita tenggelam bareng disini?" nada mengancam kembali terdengar beriringan dengan Chanyeol yang bergerak maju hingga air berhasil menyentuh ujung kaki si perempuan dalam gendongan.

"Oke, oke, MAAF!" Wendy kembali berontak dari gendongan sang teman ketika merasa bahwa posisinya sekarang sangat merugikan. "Lepasin gue sekarang karena GUE BENERAN TAKUT, CHANYEOL!"

"Disini?" Chanyeol benar-benar melepaskan gendongannya dan itu berhasil membuat Wendy panik karena dirinya hampir saja terjatuh ke dalam laut.

Dan bak kucing yang takut air, Wendy semakin mengeratkan rangkulannya pada leher si lelaki tiang dan karena gerakan yang tiba-tiba itu pula, keduanya benar-benar jatuh ke dalam air yang hampir menenggelamkan tubuh si perempuan karena gerakan paniknya.

Chanyeol dengan cepat meraih lengan si perempuan dan meraihnya dalam pelukan yang langsung disambut dengan isakan. 

"Bego." cibirnya.

"G-gue 'kan ud-ah bilang k-kalo gue gak bisa berenang huhu!"

Chanyeol tertawa. "Turunin kaki lo coba."

Wendy menggeleng keras, semakin mengeratkan pelukan. "GAK MAU!"

Chanyeol kembali menjauhkan tubuh itu, "Ini bahkan belum di tengah lautnya, Cil!"

Berhasil!

Kaki itu menapaki dasar laut yang airnya sedikit lebih tinggi dari pinggangnya. 

Matanya mengerling marah menatap lelaki yang kini tersenyum mengejek ke arahnya. "Anjing lo!"

Chanyeol mengendikkan bahu, "Loh, namanya main ke pantai kalo gak nyebur ke lautnya 'kan tanggung, Cil. Ini Bali, loh!"

"Tau ah, benci banget gue sama lo!" perempuan itu mengambil langkah cepat menuju bibir pantai, ingin segera kembali ke kamar hotel karena kondisinya sekarang benar-benar persis seperti kucing yang diguyur hujan.

Chanyeol yang melihat itu menggelengkan kepala sambil tersenyum, ikut berjalan di belakang sang teman hingga ketika mereka sampai di bibir pantai, diraihnya kembali tubuh yang basah kuyup itu ke dalam gendongan.

Namun belum sempat Wendy bersuara, Chanyeol lebih dulu menyela. "Lo lama!" 

Chanyeol bawa wajahnya mendekat ke arah telinga si perempuan, "Ini TMI sih, tapi baju lo basah dan daleman lo keliatan, Cil."

Wendy tersentak, namun tak berusaha berontak. "Bajingan." lirihnya.

 🍒

Malamnya, Chanyeol berusaha membujuk Wendy agar keluar dari kamar setelah keributan yang mereka ciptakan tadi saing.

"Ayo keluar. Lo juga belum makan, 'kan?"

Masih belum terdengar sahutan dari dalam. 

Chanyeol menghela napasnya, "Kalo lo gak mau keluar, gue yang masuk, nih?"

"GAK USAH MACAM-MACAM!"

Chanyeol tertawa mendengarnya. "Makanya keluar." tangannya kembali menggedor pintu, "Kita cuma dua hari disini. Kalo ngambeknya kelamaan, sia-sia liburan kita nanti."

Dibukalah pintu tersebut dengan suara yang cukup keras, ditambah dengan ekspresi kesal yang masih setia terpasang di wajah perempuan setinggi bahu Chanyeol yang menyorot tak suka padanya.

"Gue benci sama lo!"

Chanyeol mengangguk, "Terserah. Mau lo benci ataupun cinta sama gue, yang penting lo makan dulu." ditariknya lengan si perempuan menuju tempat yang sudah ia siapkan.

"TADA!" seru si lelaki tiang sok asik.

Tidak. Bukannya Wendy tidak terpukau dengan situasi dan suasana yang telah berusaha Chanyeol siapkan. Namun rasa kesalnya pada lelaki yang kini menyengir lebar ke arahnya benar-benar belum menghilang.

Merasa tak akan mendapat respon lebih atas usahanya, Chanyeol kembali menarik lengan perempuan itu untuk duduk di kursi yang telah disiapkan kemudian mengambil posisi duduk di seberangnya.

"Pinjem tangan lo."

Chanyeol menghela napas, "Pinjem bentar!" ditariknya paksa tangan Wendy untuk digenggam.

"Oke, gue minta maaf—dengerin dulu!" serunya cepat ketika Wendy berusaha melepaskan genggamannya. "Maaf karena seharian ini bikin lo kesel, bahkan sampe nangis juga. Tapi gue suka liat lo ngambek, kayak sekarang." kalimat panjang itu diakhiri dengan cengiran lebar khas seorang Chanyeol.

"Jadi, sebagai wujud permintaan maaf, gue siapin ini semua buat lo. Gimana?"

Wendy mengangguk, "Keliatannya enak!" matanya fokus menatap berbagai sajian yang ada di meja. Sedangkan Chanyeol yang mendapat respon begitu setelah kalimat panjangnya hanya mampu menggelengkan kepala.

"Buang waktu banget gue act in romantic way ke lo, Cil." lelaki itu memilih menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, fokus menatap ke arah Wendy yang mulai menikmati makanan yang dihidangkan.

"Makan yang banyak ya, Cil. Kapan lagi coba gue bisa kasih lo makan sebanyak ini." Chanyeol berucap bangga yang dibalas Wendy dengan anggukan.

"Thanks, Chan!"

Chanyeol menggeleng. "No need."

"Justru gue yang makasih karena lo udah jadi temen gue lima tahun belakangan. Kita sering ribut, berantem, tapi ujungnya bakal balik lagi. Dan yang paling penting, makasih karena udah ada di sisi gue waktu gue lagi galau-galaunya. Makasih banyak ya, Cil!"

Wendy mengangguk, "Lo jelek soalnya kalo sedih, makanya gue temenin biar gak berbuat yang aneh-aneh."

Chanyeol tetawa mendengarnya. "Terserahlah!" 

Yang jelas, Chanyeol berterimakasih kepada Wendy. Temannya, sahabatnya, musuhnya, juga orang yang selalu berusaha membuatnya tertawa bahkan hanya dengan menunjukkan ekspresi kesalnya.

Karena setiap kali mereka menghabiskan waktu bersama, Chanyeol selalu menghargainya, sama seperti sekarang.  

"May our friendship—relationship will be last for a long time ya, Cil."

"Iya Chanyeol, iya."

FIN.
 
p.s. Happy (belated) Birthday Park Chanyeol!

Komentar

Postingan Populer