Moonlight - Kim Jongin of EXO
Perjuangan seorang Krystal Jung untuk memiliki apartemennya sendiri setelah berulang kali membujuk sang CEO dan manager akhirnya berbuah manis. Meski butuh waktu hampir setengah tahun untuk memperoleh kepercayaan dari keduanya, Krystal yang pantang menyerah berhasil membuat keduanya jengah dan memilih untuk menuruti kemauan dari artis mereka dengan syarat, dirinya harus lebih bekerja keras lagi pada project-project selanjutnya.
Maka, setelah kembali dibuat menanti selama satu bulan—untuk renovasi—, akhir pekan ini Krystal akan mulai menempati apartemen barunya. Dan berbekal pertolongan dari sang manajer dan kekasihnya, Krystal bisa dengan cepat memindahkan barang-barang miliknya dari apartemen lama.
"Ini kamu seriusan mau tinggal sendiri? Gak mau tinggal sama Kakak lagi?"
Terhitung sudah lima kali manajernya mempertanyakan hal yang sama padanya hingga Krystal yang kini duduk bersandar di kursi belakang—mereka berada di dalam mobil kekasih manajer Krystal menuju apartemen baru— memilih memejamkan mata dan berpura-pura tidak mendengarnya.
Dilraba—manajer Krystal— mendengus melihat artisnya yang kini mengabaikannya sedangkan sang kekasih memilih diam seolah tak ingin ikut campur dalam obrolan antara sang artis dan manajer.
"Kalo gitu harus mandiri beneran, gak ada yang namanya ngedumel karena gak ada lagi yang bakal siapin keperluan kamu tiap pagi."
Suara deheman dari Krystal mengakhiri obrolan bertema keras kepala dari Dilraba yang kini memilih bersedekap dada sambil menatap jalanan di depannnya.
⏳
Setelah sampai dan puas melihat-lihat seisi apartemen, Krystal, Dilraba dan Yixing—kekasih sang manajer— memilih duduk di lantai guna beristirahat sebentar setelah lelah naik turun lantai guna memindahkan semua bawaan Krystal.
"Kalian mau makan malam disini sekalian atau gimana?" sebenarnya, itu hanya kalimat basa-basi dari Krystal. Namun, jika keduanya mengatakan 'iya', maka Krystal juga akan dengan senang hati mentraktir keduanya makanan enak sebagai ucapan terimakasih.
Namun seolah mengerti, Dilraba menggeleng. "Kita numpang ngadem bentar, abis ini mau pulang, kok. Biar kamu bisa istirahat juga."
Krystal balas mengangguk sambil tersenyum, memilih menyodorkan dua kaleng minuman isotonik dan beberapa potong cookies—yang sempat mereka beli dalam perjalanan— untuk sekedar mengisi perut.
"Inget ya, dengan kamu memutuskan buat tinggal terpisah dari Kakak, kamu gak udah gak punya hak buat gangguin Kakak di tengah malem perkara laper doang!"
Krystal berdecak, "Iya-iya.. lagian dengan aku keluar dari apart lama, Kak Dilraba sama Kak Yixing jadi bisa punya lebih banyak ruang buat berdua."
Lain dengan Dilraba yang melotot ketika mendengarnya, Yixing justru tertawa.
"Tapi Krystal, kenapa kamu kekeuh banget
mau tinggal sendiri? Apa Dilraba bikin kamu kesel sampe harus tinggal
terpisah dari dia?" Yixing juga penasaran sejak kekasihnya mengeluh jika
Krystal memilih untuk tinggal terpisah dari Dilraba dan ia berpikir
mungkin ada masalah serius diantara keduanya yang membuat Krystal tak
tahan sehingga memutuskan untuk keluar dari apartemen lama.
"BABE?!" Dilraba berseru tak terima dengan tangannya yang berhasil memberi cubitan penuh cinta pada perut kekasihnya.
Sambil
mengusap permukaan kulitnya yang berdenyut, Yixing mundur dari
posisinya yang tadi menjadi sandaran Dilraba guna menghindar dari
serangan tiba-tiba (lagi).
Krystal yang melihat interaksi keduanya hanya menggelengkan kepala sambil tertawa.
"Jadi, gimana?" Yixing kembali mengajukan pertanyaan karena tak kunjung mendapat jawaban.
"Gak ada, Kak Yixing~" Krystal mengangguk yakin. "Kalo soal kesel mah, tiap hari juga aku berantem sama Kak Dilraba. Tapi 'kan abis itu kita baikan, kenapa juga sampe kabur gini, ngerepotin."
"Intinya, aku mau kasih ruang buat diri aku dan Kak Dilraba, we called that as pri-va-cy." lanjutnya.
⏳
Setelah kedua kakaknya pulang, Krystal memutuskan untuk menata beberapa barangnya sebelum membersihkan diri dan beristirahat. Namun, entah suasana malam yang mendukung atau cuaca memang sedang dingin, Krystal merasa tak nyaman berada di apartemennya sendirian. Belum lagi, ia merasa jika sejak kepulangan Yixing dan Dilraba, dirinya yang bergerak kesana-kemari untuk menata barang tengah diperhatikan oleh seseorang.
"Gak lucu banget kalo gue harus balik ke apartemen lama cuma gara-gara takut." monolognya dengan tangan yang berusaha sibuk menyusun barang di meja TV. Dan tepat ketika matanya menatap ke arah layar TV yang mati, Krystal menemukan bayangan seseorang yang tengah menatap ke arahnya dari ambang pintu pemisah ruang kaca, membuatnya dengan cepat membalikkan diri meski tak menemukan siapapun di sana.
Krystal menghembuskan napasnya berulang kali, berusaha menenangkan diri.
"Siapapun lo, tolong jangan ganggu gue."
Dan kalimat yang baru selesai Krystal ucapkan ditanggapi dengan toples yang tiba-tiba jatuh dari meja yang membuat isinya berhamburan.
Krystal ingin menangis saja sekarang, namun tak bisa.
Ingin menghubungi manajernya untuk kembali menjemputnya tentu akan terlalu merepotkan bagi mereka, belum lagi ejekan yang mungkin saja ia peroleh karena sifat penakutnya.
Maka, Krystal memutuskan untuk meninggalkan barang-barang yang belum selesai ditata dan mengunci diri di kamar.
Mungkin, jika pikiran positifnya benar, itu semua hanya kebetulan dan dirinya yang kelelahan membuat semuanya seolah menyeramkan.
Namun, jika prasangka buruknya menang, maka apartemen yang baru ia tempati belum genap satu hari ini adalah apartemen berhantu dan penghuninya tak merasa senang dengan keberadaan Krystal disana.
Tak ingin berlarut dalam rasa takut, Krystal bergerak menuju ranjang untuk mengistirahatkan diri. Memilih melupakan niatnya untuk mandi karena takut seseorang kembali memunculkan diri.
⏳
Keesokan paginya, Krystal bangun dari tidurnya. Namun, bukannya merasa segar, Krystal malah merasa jika tubuhnya menjadi jauh lebih lelah daripada kemarin.
Memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum melanjutkan pekerjaan yang kemarin ia tinggalkan, Krystal berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruknya.
"Iya, pasti cuma karena kecapekan."
Menghabiskan tigapuluh menit untuk membersihkan diri, setidaknya ia merasa jika tubuhnya sudah lebih segar dari sebelumnya. Setelahnya, ia beranjak untuk keluar kamar dan pemandangan pertama yang berhasil ia temukan adalah, semua barang yang sebelumnya berada di dalam kotak, kini berhamburan di lantai.
Ya Tuhan!
Daripada merasa takut, Krystal malah merasa tertantang sekarang. Entah makhluk seperti apa yang mencoba menakutinya semalam, kekacauan yang dirinya lihat pagi ini berhasil melenyapkan rasa takut tersebut dan berganti dengan rasa kesal tak terkira.
"Brengsek!"
"Liat aja kalo ketemu lagi, bakal gue pukul kepalanya!" dumalnya sambil berusaha mengumpulkan benda-benda yang berhamburan ke dalam satu kotak.
"You sure?"
Krystal tersentak ketika mendengar kalimat tersebut diiringi udara yang bertiup di depan wajahnya.
Memilih mengabaikan, tangannya terus bergerak untuk merapikan benda-benda yang berserakan hingga tiba-tiba ia merasakan sebuah bayangan melintas di depannya dan berhasil membuatnya sedikit memekik.
Sosok tesebut tertawa dan kalimat yang kembali terlontar darinya berhasil membuat Krystal merinding.
"Go away!"
Namun, seolah menantang, Krystal mengangkat kepala dan matanya berhasil bertemu tatap dengan sosok pemilik mata merah yang kini berdiri tak jauh darinya dengan pandangan mengejek.
'Beneran hantu..' Krystal meringis.
Namun, belum sempat Krystal buka suara, sosok tersebut menghilang diiringi angin dingin yang meniup wajah Krystal, membuat perempuan itu jatuh terduduk dengan tangan di dada, berusaha menenangkan diri atas kejadian mengejutkan barusan.
⏳
Berhari-hari setelah kejadian tersebut, Krystal tak menemukan sosok itu namun tergantikan dengan kekacauan yang selalu ia temukan tiap kali dirinya pulang dari agensi. Entah itu gelas yang tergeletak di depan pintu keluar, atau beberapa miniatur yang tiba-tiba berpindah tempat.
Namun, Krystal tak ambil pusing akan hal tersebut selagi sosok itu tak mencoba menakutinya dengan muncul di hadapannya seperti tempo hari. Sebab, Krystal yakin dengan kondisinya yang lelah dan sosok itu tiba-tiba memunculkan diri, yang ada dirinya akan benar-benar pingsan karena tak mampu mengendalikan diri.
Namun sepertinya, malam ini adalah pengecualian.
Krystal yang baru selesai membersihkan diri menemukan jendela balkonnya terbuka dengan angin yang bertiup kencang.
Namun, itu bukanlah bagian mengejutkan. Sebab dirinya jauh lebih terkejut ketika menemukan seorang lelaki yang duduk seorang diri di bawah cahaya bulan dengan pandangan menerawang.
Daripada takut, Krystal memilih mendekat dan mengikuti arah pandang lelaki itu dimana yang Krystal temukan adalah ia tengah menatap ke arah bulan yang malam ini bulat sempurna.
Purnama.
Ketika kembali mengalihkan perhatiannya, jantung Krystal berhasil dibuat seolah melompat dari tempatnya saat ia menemukan lelaki yang tadinya duduk termenung di bawah cahaya bulan kini berdiri dengan jarak dua jengkal di hadapannya.
Lelaki ini...
⏳
Krystal menyadarinya.
Lelaki yang tadi ia temukan duduk seorang diri di bawah sinar bulan adalah sosok yang mencoba menakuti dirinya tempo hari.
Jadi, apa maksudnya semua ini?
"Lo.. beneran hantu?"
Kini keduanya duduk berhadapan dengan Krystal yang masih mencoba menjaga jarak sebagai bentuk antisipasi jika ia akan menghadapi hal tidak menyenangkan lainnya.
Yang ditanya mengendikkan bahu, membuat Krystal menelengkan kepala tanda tak paham.
Tak ingin ambil pusing, Krystal memilih diam dan melempar pandang ke arah jalanan di bawah.
"Maaf atas gangguan yang kamu terima sejak hari pertama pindah kesini, itu ulahku." itu adalah suara 'si hantu' yang akhirnya membuka suara karena sejujurnya Krystal juga tak tahan untuk diam terlalu lama, namun ia tak punya hal untuk dibicarakan.
Krystal mengangguk karena memangnya siapa lagi yang bisa mengacak-acak isi apartemennya kecuali makhluk di hadapannya ini?!
"Aku.. Kai. Pemilik apartemen ini.. sejak sepuluh tahun lalu." ucapnya sedikit ragu.
Krystal menoleh ke arahnya dengan pandangan tak terima. "Ini apartemen gue."
Kai menggeleng. "No, it's mine!" matanya menyorot tegas. "It's always mine!"
"Tapi gue udah beli apartemen ini tujuh bulan lalu. So, it's oficially mine." sahut Krystal tak mau kalah.
"I never permit this unit to be sale because it's mine."
Krystal rasa, obrolan tentang milik siapa apartemen ini tidak akan selesai jika tak satupun dari mereka mengalah. Sedangkan, dirinya ingin tau, apa alasan lelaki ini terjebak di dalam unit ini untuk waktu yang lama.
"Ah, whatever!"
"Jadi, bisa lo jelasin, kenapa lo gangguin gue?" Krystal mengalihkan topik.
Kai kembali mengendikkan bahu. "Aku senang karena akhirnya aku punya teman. Tapi aku marah karena ruang gerakku diusik orang lain."
Ah, orang ini..
Krystal kembali menghela napas agar tak emosi.
Diam-diam dirinya mempertanyakan kenapa sosok yang kini duduk di hadapannya terlihat seperti manusia normal meski pucat masih menghiasi wajahnya.
"Terus, ngapain lo duduk ngelamun disini? Dan.. ngobrol sama gue?"
Kai tersenyum. Daripada menjawab, ia memilih mengalihkan pandangannya pada bulan purnama. Membuat Krystal diam-diam mengagumi senyum indah milik sosok tersebut.
"Purnama."
Krystal berkedip dua kali, menemukan Kai yang telah kembali menatap ke arahnya.
"Aku suka duduk di sini setiap purnama. Kadang, aku bakal ngobrol sama orang yang lewat di bawah atau sekedar tegur sapa sama mereka."
"Huh?"
"Maksudnya.. lo bisa jadi manusia tiap kali bulan purnama?"
Kai lagi-lagi mengendikkan bahunya. "Kalo gitu sebutannya, berarti iya."
Krystal mendesis. "Lo beneran gak tau kalo lo ini hantu atau bukan?"
Yang diberi pertanyaan hanya melempar senyum dan balik melempar tanya. "Kalo menurut kamu, aku hantu atau bukan?"
Gimana, gimana?
Dia yang punya tubuh, kenapa Krystal yang harus pusing memikirkan statusnya?!
Tak ingin semakin pusing dengan status lelaki di depannya, Krystal memilih beranjak dari sana.
"Gue mau tidur. Kalo lo udah selesai ngeliatin bulannya, tolong nanti tutup pintu balkonnya karena malem ini dingin banget."
Kai mengangguk. Memilih kembali pada aktivitas awalnya dan mengabaikan Krystal yang telah bersiap tidur di ranjangnya.
⏳
Setelah hari itu, Kai semakin sering menunjukkan dirinya meski yang terlihat oleh Krystal hanya Kai yang berbentuk hologram.
Krystal tak ambil pusing jika lelaki itu memilih berkeliaran di apartemennya selagi ia tak mengacau seperti sebelumnya. Setidaknya, seperti yang Kai ucapkan sebelumnya, mereka jadi memiliki teman untuk sekedar mengobrol meski jika orang lain melihat, Krystal akan dianggap gila karena kerap berbicara dan berseru kesal sendirian.
Akhir pekan tiba. Krystal menghabiskannya dengan menonton film yang telah ia siapkan sebelumnya. Memilih mengurung diri di kamar sejak pagi membuatnya tak melihat sosok Kai hari ini.
Sepertinya, meski lelaki itu mengatakan jika apartemen ini adalah miliknya, namun Kai masih tau diri untuk tak masuk ke kamar ketika Krystal ada di dalamnya.
Atau mungkin, tidak.
Karena Krystal yang baru saja selesai menyiapkan camilan dan bersiap mematikan lampu dikejutkan oleh kehadiran Kai yang menembus pintu.
"Kenapa kamu gak keluar? Aku bosan bermain sendirian."
Krystal bisa menemukan ekspresi murung di wajah Kai yang masih berdiri di dekat pintu. Maka, entah ide dari mana, tangannya melambai untuk mengajak lelaki itu ikut duduk di sisinya agak bisa menonton bersama.
"Film?"
Krystal mengangguk. Memilih fokus pada tontonan dan camilan dalam pelukan.
Kai yang kembali diabaikan merasa kesal. Maka, sebagai ungkapan rasa kesalnya, layar tablet yang tadinya menampilkan salah satu scene dari film tiba-tiba mati, membuatnya diberi tatapan mendelik dari Krystal.
"Apa?" Kai dan ekspresi tak bersalahnya benar-benar membuat Krystal ingin mencekik lelaki yang saat ini duduk di sampingnya.
"Gue capek, Kai. Boleh gak, stop dulu gangguin gue?" Krystal memilih berbalik memunggungi Kai yang masih menatap sebal ke arahnya.
"Ayo bermain denganku. Kemarin-kemarin kamu sibuk, jadi hari ini kamu harus bermain denganku!" Kai berteleportasi ke hadapan Krystal yang masih mengacuhkannya.
"Play with me or go away from my place!"
"HEI?!" Krystal berseru tak terima.
Melihat Kai yang tubuhnya perlahan diliputi asap hitam membuat Krystal menghembuskan napas pelan.
Menurut dan mengalah adalah opsi yang tepat jika tak ingin terluka.
"Okay, ayo main. Tapi setelah gue selesaiin satu film."
Melihat Kai yang hampir tersenyum namun kembali merengut membuat Krystal kembali menegaskan satu hal.
"Gue janji, habis ini gue bakal temenin lo main sampe puas."
Tak kunjung mendapat sahutan membuat Krystal menyimpulkan bahwa lelaki itu setuju dengan negosiasinya. Terlebih ketika ia melihat Kai yang kini kembali duduk manis di sisinya dengan layar tablet yang kembali menyala.
Yeah, hidup berdampingan dengan Kai selama satu bulan belakangan berhasil membuat Krystal sedikit paham cara menghadapi sosok tersebut.
Dan mungkin keputusan Krystal untuk tetap membiarkan Kai berasa di sisinya bukanlah hal yang buruk, menurutnya.
FIN.



Komentar
Posting Komentar