Us, Again - Hamada Asahi of TREASURE


Hamada Asahi. Pemuda berdarah Jepang yang menjadi incaran hampir satu sekolah karena wajah rupawannya sejak hari pertama kakinya menapaki SMA. 

Namun, satu yang orang-orang tidak ketahui. Sejak hari pertama bersekolah disana, Asahi sudah memusatkan perhatiannya pada seorang perempuan bernama Arasha. Perempuan yang membantunya menemukan ruang kelas di hari pertama, juga perempuan yang sampai saat ini memegang titel sebagai sahabatnya di tahun ketiga SMA. 

"Buset, rame banget!"

Itu suara Jeongwoo yang berseru kesal setelah berhasil melewati kerumunan perempuan yang selalu memenuhi pintu kelas mereka demi melihat seorang Asahi Hamada.

Junghwan yang mendengarnya tertawa sambil menyahut, "Udah tiga tahun begitu, masih kaget aja."

"Sa, bilangin coba. Risih, weh!"

Asahi tetap diam di tempatnya, tak mencoba peduli sedikitpun pada panggilan yang ditujukan padanya. Sedangkan Jeongwoo yang merasa diabaikan mendengus dan memilih berbalik menuju bangkunya.

"Kalo Asha yang ngomong ke mereka, gimana?"

"Biarin aja."

Jeongwoo menatap Asahi dan Arasha bergantian.

Apa nih maksudnya?

"Tapi temen-temen gak nyaman, Sahi." Arasha akhirnya menyuarakan isi hati teman-teman kelasnya. Meski sebenarnya sudah terbiasa, namun tetap saja tingkah laku para perempuan di luar sana menghalangi mereka untuk beraktivitas bebas.

"Biarin." lagi. Namun kali ini penuh penekanan.

Menghela napas, Arasha kembali pada posisinya. Membuat Jeongwoo yang penasaran menyenggol bahu Junghwan yang duduk di sampingnya. "Kenapa, tuh?" bisiknya.

Junghwan mengangkat bahu sebagai respon, lantas kembali fokus pada ponselnya. Membuat Jeongwoo mendengus sambil menepuk kepalanya pelan.

Keesokan paginya, Asahi kembali menemukan Arasha sebagai manusia pertama yang menapaki ruang kelas mereka.

Ia mendengar perempuan itu bersenandung pelan, lagu yang sering Arasha gumamkan tiap kali melakukan sesuatu. Dan entah karena memang kondisinya atau bagaimana, Asahi selalu merasakan kepalanya berdenyut tiap kali mendengar lagu tersebut disenandungkan Arasha.

Oleh sebab itu, dirinya yang tiba-tiba kehilangan fokus berhasil mengejutkan Arasha yang tadi sibuk dengan buku bacaannya.

"Loh, Sahi udah sampe?" ia buru-buru berdiri melihat lelaki itu menumpukan berat tubuhnya pada kusen pintu.

"Kenapa? Sahi sakit?" tangannya terulur untuk memapah Asahi untuk duduk di meja mereka.

Yang ditanya menggeleng, menepis pelan lengan Arasha yang mencoba menyentuh dahinya. "Gapapa."

Meski ragu, Arasha mengangguk. Lantas perempuan itu kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan bacaan yang sempat tertunda.

Lagi.

Asahi kembali mendengar Arasha menggumamkan lagu yang terasa tak asing untuknya.

"Bisa stop nyanyinya?"

Arasha menoleh, menemukan Asahi yang masih memegangi kepala sambil menatap ke arahnya.

"Stop nyanyi, gue pusing." ulang Asahi.

Arasha tersenyum, "Masih pusing?" tangannya yang terulur kembali ditepis dan dihadiahi tatapan tak menyenangkan dari Asahi.

"Mau obat? Atau teh anget?" 

Asahi menggeleng. "Lo, diem. Gue pusing."

Arasha mendengus, namun mengangguk meski bibirnya sibuk mencibir. 

Ketika jam makan siang, Asahi dan Arasha pergi ke kantin bersama. Mengabaikan kerumunan perempuan yang kini sibuk menatap ke arah mereka.

"Um, Sahi.."

Asahi mengangkat kepalanya, menatap ke seberang meja dimana Arasha berada.

"Gak mau makan di kelas aja? Asha gak nyaman.."

"Di kelas lebih gak nyaman, sumpek."

Arasha mengangguk, memilih mengedarkan pandangannya sambil bersenandung pelan guna menghindari tatapan Asahi yang masih tertuju padanya.

"Lagu yang lo nyanyiin barusan..,"

Arasha berkedip dua kali karena terkejut atas kalimat yang baru saja diucapkan lelaki di depannya. "Kenapa?"

Asahi menggeleng. "Nanti aja." mata lelaki itu beralih pada makanan mereka yang baru saja diantarkan.

Setelah mengucap terimakasih, keduanya fokus pada makanan masing-masing meski dalam hati, keduanya menyimpan pertanyaan serupa.

Kenapa sama lagunya?

Hari ini, keduanya pulang bersama. Arasha yang terbiasa pulang dengan bis, ditemani Asahi yang sengaja tak membawa kendaraan kesayangannya.

Sepanjang perjalanan mereka menuju halte, Arasha selalu menggumamkan irama yang sama. Membuat Asahi mati-matian menahan rasa sakit di kepalanya.

"Ugh!"

Asahi menghentikan langkahnya ketika dirasa sakit di kepalanya sudah tak mampu ia tahan. Tak menemukan sesuatu sebagai tumpuan, tubuhnya jatuh berlutut dengan kedua tangan yang meremat rambutnya kuat.

"Sahi?!" Arasha ikut berlutut di sisi lelaki itu, berusaha melonggarkan rematan tangannya dari kepala.

Dirasa membaik, Asahi menatap tajam ke arah Arasha. "Lo," telunjuknya menuding di depan muka perempuan di hadapan, "Stop nyanyiin lagu itu, kepala gue sakit tiap dengernya!"

Arasha tersentak. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pertemanan mereka, Asahi meninggikan suara kepadanya.

"M-maaf.." 

Arasha menunduk. Tak sanggup menatap mata Asahi yang masih menyorot marah padanya.

"Tapi, Asha emang harus nyanyiin lagu itu buat nemuin pangeran." lirihnya.

Asahi mendengus, tak ingin menanggapi lebih jauh agenda halusinasi dari sahabatnya.

"Dan Asha yakin, pangeran yang Asha cari itu emang Sahi." perempuan itu menegakkan kepala, menatap ke dalam mata Asahi yang juga tengah menatapnya.

"Sahi mau coba nyanyiin lagunya? Selama ini Asha cuma gumam pelan buat dapetin respon, tapi gak satupun dari temen-temen di kelas kita yang tau. Dan respon Sahi barusan bikin Asha makin yakin, kalo pangeran yang Asha cari selama ini emang Sahi."

"Gak usah ngaco!"

Arasha menggeleng. Tangan perempuan itu terulur untuk menggenggam tangan Asahi yang sedaritadi berkeringat dingin.

"Dengerin Asha baik-baik dan Sahi bisa lanjutin liriknya kalo Sahi tau."

"There once was a ship that put to sea, the name of the ship was the Billy O' Tea.." Arasha diam sebentar untuk melihat respon Asahi sebelum melanjutkan. "The winds blew up, her bow dipped down, oh blow, my bully boys, blow, huh!"

Lagi. 

Asahi kembali memberikan respon yang sama. Namun kali ini, lelaki itu merasakan ratusan bayangan seolah berlari di kepalanya lengkap dengan tawa dari dua anak kecil yang seolah tak asing baginya.

Arasha tak berusaha menghentikan lelaki itu meski Asahi telah kembali meraih rambutnya untuk diremas kuat. Meski sedikit terisak, Arasha kembali melanjutkan nyanyiannya. "Soon may the Wellerman come, to bring us sugar and tea and rum.."

"One day.. when the tonguing is done.. we'll take our leave and go.." Asahi melanjutkan nyanyian Arasha meski terbata.

Arasha melotot, "SAHI?!" 

Lelaki itu masih berusaha meraih kesadarannya yang hampir terkikis, lantas menatap Arasha bingung.

"Yang barusan itu, apa?"

Arasha mengusap kedua pipinya kuat, daripada menjawab, ia malah menarik Asahi ke dalam pelukan sambil terus bergumam. "Pangeran.. Pangeran Arthur pulang.."

Saat ini keduanya berada di rumah Arasha. Tak ingin menahan kebingungan lebih lama, Asahi menuntut perempuan itu untuk menjelaskan semua yang terjadi padanya.

Arasha kembali dari kamar setelah mencuci wajahnya. Perempuan itu duduk di karpet bersandarkan kaki sofa, sedangkan Asahi tetap di posisinya.

"Harusnya, Asahi udah ngerti sama apa yang terjadi walau cuma sedikit.." Arasha menyodorkan gelas berisi jus jeruk yang langsung diraih Asahi meski tak kunjung diminum.

Asahi menggeleng, "Gue masih gak paham."

Arasha mengangguk. "Ingatannya pasti perlahan balik. Tapi, Asha bakal coba jelasin semampunya Asha." 

Menarik napas sebentar, Arasha kembali menatap Asahi yang tak melepaskan pandang darinya.

"Asha tau, Sahi punya tanda lahir di tangan kanan Sahi." lelaki itu mengangguk sebab bukan hanya Arasha yang tau, namun teman-temannya juga mengetahui tanda yang ia miliki sejak lahir itu.

"Tapi, itu sebenarnya bukan tanda lahir. Melainkan identitas Sahi sebagai anggota kerajaan."

Asahi memejamkan matanya sambil mendengus pelan. "Bisa stop halunya? Gue nuntut penjelasan yang logis."

Arasha merengut. "Asha tau ini semua gak masuk akal buat Sahi, makanya Asha bilang tunggu aja ingatannya perlahan balik."

"Tapi gue mau tau!"

Meski tersentak, Arasha balik mendelik ke arah Asahi. "Gak perlu marah-marah gitu, Asha 'kan emang udah janji bakal jelasin semuanya, semampu Asha."

"Jadi, mau itu masuk akal ataupun enggak, Sahi cuma boleh dengerin tanpa protes. Karena soal bener atau enggaknya, Sahi bakal tau sendiri kalo ingatannya udah sempurna."

Tak ingin memperumit, Asahi mengangguk.

"Satu lagi. Kalung yang Asahi pake sejak lahir, itu pemberian Putri Arasha di hari pernikahannya sama pangeran."

Asahi menaikkan alisnya, "Putri Arasha? Lo, maksudnya?"

Arasha mengangguk, kemudian menggeleng. "Nama Asha emang Arasha. Tapi yang kasih kalung itu Putri Arasha, bukan Asha."

Asahi mendelik. "Lo bisa ngomong yang jelas? Daritadi muter-muter mulu. Asha, Arasha. Gue bingung!"

Arasha menghela napas kuat. "Asahi itu, Pangeran Arthur di masa lalu. Dan Asha itu, Putri Arasha di masa lalu." ia menatap Asahi yang mulai fokus mencerna apa yang ia sampaikan. "Dan lagu yang sering Asha nyanyiin, itu lagu kita waktu kecil. Sama kayak sekarang, baik Pangeran Arthur dan Putri Arasha maupun Sahi dan Asha, kita udah temenan, bahkan di kehidupan sebelumnya."

Asahi berkedip dua kali setelah berhasil memahami maksud Arasha. "Maksudnya, lo.. gue.. kita.. reinkarnasi dari Pangeran Arthur dan Putri Arasha?"

Arasha mengangguk mantap.

"Tapi, kenapa lo bisa inget semuanya sedangkan gue harus ketemu sama lo dulu baru bisa perlahan inget?"

Arasha mengendikkan bahu, "Mungkin, karena sejak awal, yang jatuh cinta duluan adalah Putri Arasha. Begitupun Asha."

"HAH?!"

Arasha tertawa. 

"Terimakasih telah kembali, Pangeran.."

FIN.

Komentar

Postingan Populer