Yamai (病) - Choi Hyunsuk of TREASURE


 ❝It's an incurable disease and the name of the disease was love..❞ 病 by Treasure

"Papa mau checkup hari ini, kamu mau ikut?" itu kalimat pertama yang Hyunsuk dengar begitu langkahnya selesai menuruni tangga.

Hyunsuk mengangguk, "Boleh." diambilnya posisi duduk di seberang papa kemudian mulai menyuapkan sarapannya dengan tenang.

Alis papa berkerut, "You sure?

"Kenapa?" Hyunsuk balas bertanya, "Kan aku ditawarin."

"Basa-basi doang sih, tadinya. Kamu 'kan biasanya mager." cibir papa.

Hyunsuk mendengus, "Ikut salah, gak ikut juga salah. Emang serba salah kalo jadi anaknya Papa, tuh!"

"Dih, pundungan. Dasar anak Mama!"

"Ma, dikatain pundungan nih sama Papa." adu Hyunsuk ketika melihat mamanya sudah kembali dari pantry.

"Gimana, Sayang?" mama mengusap kepala putranya kemudian mendudukkan diri di sisi Hyunsuk sedangkan papa hanya menggeleng menanggapi.

"Jadi checkup hari ini?" mama beralih bertanya pada papa yang dibalas anggukan, "Hyunsuk mau nganterin katanya." mama ikut mengangguk.

"Hati-hati di sana nanti, takutnya pingsan waktu liat darah." mama menoleh pada Hyunsuk yang dibalas acungan jempol.

"Kalo cuma nganterin Papa doang sih, gak bakal liat darah harusnya." balas Hyunsuk santai.

FYI, papa memang punya jadwal checkup bulanan untuk mengecek kondisi tubuhnya―bukan karena sakit tentunya. Maklum, faktor usia :)

"Harusnya.. kalo mata kamu gak jelalatan kemana-mana." papa menyahuti.

Hyunsuk menatap papa tak suka, "Aku bukan Papa, ya!" 

Papa balik melempar senyum menyebalkannya, "Let's see, then."

🍭🍭

Hyunsuk sudah bosan menunggu papanya yang baru saja memasuki ruang dokter sepuluh menit lalu dan kini perhatiannya mulai teralihkan pada orang yang berlalu-lalang―definisi jelalatan menurut papa. 

Sibuk memandangi seisi lorong rumah sakit, Hyunsuk memusatkan perhatiannya pada seorang perempuan yang terlihat linglung setelah keluar dari ruangan dokter dan karena jiwa kemanusiaan―rasa ingin tau lebih tepatnya― yang tinggi, Hyunsuk membawa tubuhnya mengikuti perempuan itu hingga sampailah ia di atap rumah sakit.

"Ngapain tuh cewek naik ke atas sini? Jangan-jangan..." Hyunsuk dan prasangka buruknya mulai bekerja. Terlebih, kini matanya tak berhasil menemukan eksistensi perempuan yang tadi diikutinya.

Hyunsuk bawa kakinya melangkah mendekati pembatas rooftop, "Gak mungkin udah lompat, 'kan?!" hebohnya sambil berusaha melirik ke bawah dan menghembuskan napas lega karena tak menemukan tanda-tanda bahwa perempuan yang tadi diikutinya telah melompat.

Dan tepat begitu tubuhnya berbalik, Hyunsuk dikagetkan dengan kemunculan perempuan yang kini berjarak satu meter darinya.

"Lo ngikutin gue, ya?!" perempuan itu melempar tatapan menyelidik yang dengan cepat dibalas Hyunsuk dengan gelengan.

"Pede amat lo! Lagian, siapa elo sampe harus gue ikutin? Jennie BLACKPINK?" Hyunsuk berdecih guna menghilangkan rasa gugupnya kemudian menggeser tubuh perempuan itu agar bisa segera pergi dari sana.

Baru dua langkah, Hyunsuk kembali berbalik menghadap perempuan asing itu. "Kalo mau bunuh diri, jangan disini. Takutnya nanti ada yang trauma." tak memperoleh respon apapun, Hyunsuk kembali melanjutkan langkahnya hingga ketika sampai di pintu rooftop, Hyunsuk mendengar suara jatuh yang cukup keras dan berhasil membuat dirinya membalikkan tubuh dalam sekejap mata.

"Woy!" serunya segera berlari meraih tubuh perempuan tadi yang kini sudah terkapar, "Kenapa pake pingsan segala, sih!" 

Lain di mulut, lain pula dengan tindakan. 

Tanpa berpikir lama, Hyunsuk meraih perempuan itu dalam gendongan untuk dibawa turun agar bisa segera diperiksa. Dalam langkahnya menuruni tangga Hyunsuk bergumam, "Ini akibat dari sifat kepo lo, Hyunsuk. Nikmatin dah tuh nurunin tangga sambil bawa orang pingsan yang sama sekali gak ringan."

🍭

Setelah berhasil sampai di lantai yang dituju―tempat ia melihat perempuan itu pertama kali― dengan kondisi kaki luar biasa lemas, Hyunsuk segera berteriak memanggil ners untuk membantunya memindahkan perempuan dalam gendongan ke atas brankar.

"Loh, Mbak Bitna!" mendengar nada hampir berteriak dari ners barusan membuat Hyunsuk menyadari bahwa perempuan yang kini terbaring di atas brankar terbilang sering―atau bahkan selalu berada di rumah sakit ini. 

Hyunsuk hanya mengikuti dari belakang ketika ners yang tadi dipanggilnya membawa perempuan bernama Bitna itu memasuki sebuah ruangan yang berhasil membuat Hyunsuk yang sudah lemas menjadi terbaring tak berdaya di lantai. Ruang Hemodialisa.

🍭

"Kenapa bisa gini?" adalah kalimat yang pertama kali Hyunsuk dengar setelah membuka mata. Di sana―sofa di ujung ruangan tepatnya― papanya bersedekap dada sambil menatap jengah ke arahnya.

"Papa 'kan udah bilang buat gak jelalatan, kamu tuh!" papa mendekat kemudian menoyor kening putranya pelan.

"Aku nolongin orang, loh?!" Hyunsuk berseru tak terima, "Sampe pingsan gini?" papa melempar tatapan remeh. "Kamu tuh kalo mau nolongin orang ya liat kapasitas diri, gak usah sok jagoan!"

"Aku 'kan orang baik, gak kayak Papa!" cibirnya pelan namun masih bisa didengar.

"Orang baik kok takut sama darah sampe segitunya. Gak ada superhero yang pingsan habis nolongin korban!"

Hyunsuk melempar tatapan kesal pada sang papa yang kini asik mengupas apel sambil terus mencibirnya, "Itu namanya fobia, Papa gak boleh sepelein fobianya orang, dong!"

"Whatever."

Suara ketukan di pintu berhasil menghentikan perdebatan keduanya dan masuknya seorang wanita seusia ibunya membuat Hyunsuk memiringkan kepalanya bingung.

"Permisi, maaf mengganggu waktunya. Saya ibunya Bitna dan ini saya bawain buah buat nak―"

"Hyunsuk, Tante."

"―ah, iya. Nak Hyunsuk. Makasih banyak karena tadi udah nolongin Bitna, dia emang bandel anaknya."

Hyunsuk mengangguk sambil berpikir apakah kalimat yang kini berputar di kepalanya perlu ia pertanyakan. Pasalnya, ia hanya orang yang kebetulan melihat perempuan itu, bukan teman maupun kenalan.

"Nak Bitna sakit apa sampe bisa pingsan gitu?" ternyata papa lebih dulu menyuarakan keraguan Hyunsuk, membuatnya menatap sang papa bingung sekaligus berterimakasih.

"Bitna itu.. istimewa." perempuan yang mengaku ibunda dari perempuan bernama Bitna itu tersenyum, "Bitna tumbuh berbeda dari anak-anak seusianya. Dia gak boleh terlalu capek, gak bisa makan sembarangan juga, tapi anaknya gak pernah ngeluh aneh-aneh kecuali terakhir kali dia bilang gak mau cuci darah lagi."

"Cuci darah?" papa mengulangi kalimat terakhir sambil menatap putranya, oh.. gitu? 

"Iya, Bitna punya gagal ginjal sejak bayi. Dokter bilang, Bitna masih bisa sama saya sampai hari ini berkat usaha dia dan mukjizat Tuhan. Makanya, saya bingung banget waktu dia bilang mau nyerah aja karena capek harus bolak-balik ke rumah sakit tiap dua kali seminggu." 

"Aduh, malah jadi curhat!" Ibu Bitna meringis, "Kalau begitu saya permisi mau ke kamarnya Bitna, ya. Nak Hyunsuk, sekali lagi terimakasih." kalimat terakhir beliau dibalas anggukan oleh kedua lelaki dalam ruangan tersebut.

Setelah memastikan tak ada siapa-siapa lagi selain mereka berdua, papa kembali menatap putranya. "Kamu.. beneran mau jadi orang baik, 'kan?"

Hyunsuk mengangguk ragu. 

"Kalo gitu, kamu coba bantu ibunya Bitna buat bujukin anaknya supaya semangat lagi buat sembuh walau kemungkinannya kecil. Karena kayak cerita ibunya Bitna, Bitna berhasil bertahan sampe sekarang karena mukjizat juga usaha dan semangatnya buat sembuh."

"...Pa?"

"Kenapa? Mau jadi orang baik, 'kan?" ulang papa, "Jadi orang baik itu gak boleh setengah-setengah, Sayang." papa melempar senyum menyebalkannya.

Sial! Kalimat Hyunsuk kini menjadi bumerang untuknya.

🍭🍭

Dan ya, sesuai perkiraan. Kemunculan Hyunsuk yang tiba-tiba dalam hidup Bitna tentu tak serta merta Bitna terima begitu saja. Namun, tiap kali Bitna mempertanyakan alasan lelaki itu selalu berada di dekatnya setelah pertemuan pertama mereka, jawaban yang Bitna terima hanyalah, "Gue lagi cosplay jadi orang baik."

Baiklah, terserah Hyunsuk saja!

"Ngapain lo di depan rumah gue?" Bitna melempar tatapan jengah pada lelaki yang―lagi-lagi― sudah berdiri di depan pintu rumahnya lengkap dengan jaket denim kebanggaannya.

"Mau nganterin lo cuci darah, lah!" balasan yang terlewat santai itu membuat Bitna mendengus, "Kenapa lo hapal banget jadwal gue? Lagipula, gue gak pernah minta lo―yang notabenenya takut darah― buat nemenin gue cuci darah."

Hyunsuk meringis mengakui bahwa yang diucapkan Bitna adalah benar, "Kan gue gak ikut masuk ruangan, so, gue gak bakal kenapa-kenapa."

"Gue yang kenapa-kenapa!" Bitna berseru, "Apa bedanya gue pergi cuci darah sendiri sama ditemenin lo? Gak ada. Semuanya tetap gue lakuin sendirian." lirihnya yang ditanggapi Hyunsuk dengan kernyitan dahi.

"Maksudnya, lo mau gue temenin sampe ke dalam ruangan?" tanyanya ragu sambil berharap bahwa yang ada di pikirannya sekarang adalah―

Bitna mengangguk pelan. "Biar lo tau alesan gue ngotot bilang gak mau cuci darah dan milih nyerah." 

―salah.

Katakan, Hyunsuk harus apa sekarang?

🍭

Menepati janjinya―meski dengan tangan gemetar luar biasa― Hyunsuk masuk ke dalam ruangan Hemodialisa untuk kedua kalinya―yang pertama tentu saja ketika Hyunsuk ditemukan pingsan karena fobianya muncul.

Berulang kali Hyunsuk membuang napasnya berharap rasa takut akan cairan merah itu bisa berkurang. Terlebih, ketika mesin dan selang―segala macam peralatan cuci darah― sudah mulai terpasang di sekujur lengan Bitna yang berbaring santai.

Mendengar Hyunsuk yang lagi-lagi menghela napas dilengkapi ringisan di wajahnya membuat Bitna tak tega. "Lo.. setakut itu?"

Hyunsuk berkedip dua kali, "No worry. Gue bisa tahan kok selama gak ngeliat ke darahnya langsung." terbukti dengan Hyunsuk yang terus menatap wajah Bitna yang kini melempar senyum tipis ke arahnya. 

Hyunsuk tertegun.

Untuk pertama kalinya, Bitna tersenyum padanya. Tak lagi ia temukan ekspresi kesal terpasang di wajah perempuan di hadapannya, yang ada hanyalah senyum tipis yang terpatri di wajah yang biasanya terlihat pucat itu.

Hyunsuk akui, Bitna terlihat cantik sekarang.

Meski pucat tak benar-benar menghilang dari wajahnya, namun binar matanya yang kembali berpendar berhasil membuat Hyunsuk menemukan sesuatu yang ingin ia lindungi. 

Perasaan apa ini? tanya Hyunsuk pada dirinya sendiri.

🍭

Bitna mengajak Hyunsuk naik ke atap rumah sakit setelah proses cuci darahnya selesai. Jika biasanya ia datang ke sini sendiri untuk merenungi sisa hidupnya, kali ini berbeda. Hyunsuk ada untuk menemaninya dan lelaki itu siap mendengarkan keluh kesahnya.

"Udah tau alesan gue pengen stop ngelakuin ini?" kalimat pembuka dari Bitna setelah keduanya hanya duduk diam menatap langit selama hampir sepuluh menit.

Hyunsuk beralih memusatkan perhatiannya pada Bitna yang sepertinya tak terganggu―terlihat dari ekspresi tenangnya yang terus tertuju pada langit biru dan jejeran gedung tinggi di depan sana.

Bitna menegakkan tubuhnya, beralih menatap Hyunsuk yang masih tak melepaskan tatap darinya.

"Lo liat," Bitna menggulung lengan bajunya, menunjukkan lebam yang ia peroleh lewat proses cuci darahnya. 

"...alesan capek bolak-balik ke rumah sakit buat cuci darah itu bohong." Bitna tersenyum, "Kalo aja gue gak denger dokter bilang harapan hidup gue tinggal sebentar, kalo aja gue gak denger Ibu yang diam-diam nangis tiap malam, dan kalo aja gue gak sedih tiap kali ngeliat lebam yang gue dapat karena berharap gue bisa terus sama Ibu, gue gak bakal segampang itu buat bilang kalo gue capek."

Melihat Hyunsuk hanya diam, Bitna kembali bersuara. "Sekarang, lo mau gimana?"

"Jadiin gue alasan." Hyunsuk berujar mantap yang dihadiahi tatapan bingung oleh Bitna.

"Gue tau ini lancang. Tapi, bisa gak lo jadiin gue alasan buat lo bertahan?" tangan Hyunsuk terulur untuk menggenggam tangan perempuan di hadapan, "Cari gue tiap kali lo pengen nyerah, cari gue tiap kali lo pengen berkeluh kesah. Gue bakal selalu disini, buat lo." 

Bitna melempar tatapan tajam pada lelaki di depannya, dengan cepat pula ia tarik tangannya dari genggaman lelaki itu. Pandangannya kembali terlempar jauh ke depan, memandang awan yang bergerak perlahan. "Gue gak butuh dikasihani."

"Gue gak tau apa motivasi lo tiba-tiba deketin gue gini, kasih perhatian ke gue, bahkan berusaha buat lawan fobia lo demi gue. Tapi, kalo lo lakuin itu semua karena sebuah rasa kasian, you better stop." 

Bitna berdiri, "Gue rasa lo tetap gak paham. Percuma gue ngomong panjang lebar dari tadi." ia bawa langkahnya meninggalkan Hyunsuk yang masih diam di tempat. Tanpa berniat menegur, Bitna pergi dari sana. Meninggalkan Hyunsuk yang kini bingung dengan perasaannya.

🍭🍭

Hyunsuk akui jika awalnya ia tak punya niat sama sekali untuk tau lebih jauh mengenai perempuan yang ia temui dua bulan lalu itu. Berusaha menjadi teman dan penyemangat bagi Bitna berawal dari bumerang yang ia lemparkan pada papanya yang kemudian berbalik arah padanya.

Namun, mendapat kabar jika perempuan itu kembali drop setelah pertemuan mereka dua minggu lalu berhasil membuatnya kalang kabut. Dari kabar yang didapatnya, Hyunsuk tau jika dua minggu terakhir Bitna menghindari pertemuan dengan dokter―juga terapi cuci darahnya dengan mengurung diri di dalam kamar hingga akhirnya ditemukan ibu dalam keadaan tak sadarkan diri sebab tak kunjung menyahut ketika dipanggil.

Malam itu dengan jaket denim kesayangannya, Hyunsuk memacu mobilnya dengan cepat ketika dirasa jalanan terlihat lengang dengan keyakinan dirinya akan segera menemui Bitna. Namun sayang, perasaan kalut yang menyelimuti hati dan pikirannya tak mampu membuat Hyunsuk fokus pada jalanan di hadapan hingga ketika mobilnya berbelok, matanya tak berhasil menangkap sinyal dari mobil dengan arah berlawanan dan berakhir dirinya membanting stir hingga mobil yang dikendarainya menabrak pembatas jalan hingga membuat tubuhnya terbentur keras.

Di ambang kesadarannya, Hyunsuk memikirkan Bitna. 

Bagaimana keadaan perempuan itu setelah mereka tak bertemu selama hampir dua minggu? Lalu, apakah dropnya Bitna disebabkan olehnya dan kalimat konyol yang ia ucapkan di pertemuan terakhir mereka?

🍭🍭

Bitna sadar dari pembaringannya setelah melewati fase kritis satu bulan lamanya. Jika ditarik mundur, ada banyak kejadian yang Bitna lewatkan dan ibu berusaha untuk tak membuat anaknya terlalu stres―setidaknya sebelum kondisi sang putri mencapai fase stabil. Cukup sekali ibu panik akan kehilangan satu-satunya anggota keluarga, jangan lagi.

Di hari ketiga fase pemulihan, Bitna mempertanyakan eksistensi lelaki yang kemarin berjanji akan selalu ada untuknya. 

Dimana lelaki itu? 

Bahkan saat ia sakit begini pun, kenapa Hyunsuk tak kunjung menampakkan diri?

Ketukan di pintu kamarnya berhasil mengalihkan perhatian Bitna. Dalam hati dirinya bertanya-tanya, mengapa yang dinanti kehadirannya tak kunjung menampakkan muka, tetapi malah seseorang yang mengaku ayah dari lelaki itu yang kini berdiri di sisi ranjang Bitna.

"Halo, Bitna. Gimana kondisi kamu?"

Raut lelah terpasang di wajah lelaki dewasa itu, membuat Bitna bingung, haruskah ia mempertanyakan keabsenan Hyunsuk sekarang pada beliau.

"Dokter bilang, aku udah gak perlu cuci darah lagi karena waktu aku drop satu bulan lalu, ada donor ginjal yang cocok buat aku." Bitna tersenyum lebar, membuat lelaki paruh baya itu ikut melempar senyum padanya.

"Syukurlah kalo gitu."

Terdiam cukup lama, papa merogoh saku celananya. "Kamu nyariin Hyunsuk, 'kan? Maaf ya, dia gak bisa jengukin kamu." papa memindahkan lipatan kertas di genggamannya ke tangan Bitna.

Bitna balas tersenyum tipis meski dalam hati bertanya-tanya, apa alasan lelaki itu tak bisa menemuinya dan apa maksud dari kertas yang kini ada dalam genggamannya.

"Hyunsuk sibuk ya, Om?"

Papa Hyunsuk lagi-lagi mengulaskan senyum. "Di surat itu, kamu bakal tau alasan Hyunsuk gak bisa jengukin kamu. Tapi sebelum itu, Om minta maaf atas nama Hyunsuk, ya. Dia emang bandel anaknya." papa mengulang kalimat yang sama seperti yang pernah Ibu Bitna ucapkan padanya dan Hyunsuk tempo hari.

"Om pamit, ya. Semoga lekas sembuh, Bitna."

🍭

Menjalani fase pemulihan dua minggu lamanya, Bitna akhirnya diizinkan pulang dengan catatan, ia harus kembali menemui dokter spesialisnya jika dirasa ada yang tak beres pada tubuhnya.

Sekarang, tujuannya hanya satu. Menemui Hyunsuk dan mempertanyakan alasan mengapa sampai saat ini lelaki itu tak pernah menemuinya.

"Halo, Bandel!" Bitna menghembuskan napasnya pelan, "Jadi, ini alasan lo gak mau ketemu gue?"

Hembusan angin menerpa wajahnya. "Maaf, Bitna.."

Kembali menghela napas pelan, Bitna bawa tubuhnya berjongkok guna menyejajarkan diri dengan orang yang ditemuinya. "Gue pengen tau, apa alasan lo ngebut malam itu?"

"Gue panik waktu itu. Yang ada di pikiran gue cuma satu. Gue harus segera ketemu sama lo supaya bisa tau kondisi lo."

"Jujur, gue bingung. Kenapa lo gigih banget pengen ketemu gue malam itu. Kita bahkan gak seakrab itu, Hyunsuk." Bitna sudah tau semuanya. Alasan Hyunsuk tak pernah menemuinya selama ia dirawat bukan karena lelaki itu tak mau, melainkan tak bisa.

"Gue pernah bilang 'kan, gue pengen jadi salah satu alasan lo buat bertahan." mendengar cerita orangtua Hyunsuk yang mengatakan bahwa lelaki itu sempat sadar dari komanya selama beberapa jam guna menyampaikan semua keinginannya―termasuk surat yang sudah berada dalam genggaman Bitna membuatnya sadar bahwa lelaki itu memang segigih penampilannya.

Mengusap air mata yang terus membasahi pipinya, Bitna kembali terisak. "Gue butuh penjelasan, kenapa lo seberusaha itu cuma demi orang yang bahkan kematiannya udah bisa diprediksi ini?" 

Jika ditanya bagaimana perasaan Bitna setelah mengetahui semuanya, tentu saja Bitna merasa bersalah. Sebab, karena dirinya, kedua orangtua Hyunsuk harus kehilangan putra mereka satu-satunya. 

Namun, saat pertemuan mereka tempo hari, kedua paruh baya itu mengatakan untuk tak perlu merasa bersalah. Karena, lewat kalimat terakhir yang Hyunsuk sampaikan pada papa dan mama di malam lelaki itu jatuh koma berhasil menyadarkan keduanya bahwa memang tak ada siapapun yang perlu disalahkan mengenai perasaan putra mereka. 

Terlebih, cengiran menyebalkan yang masih sempat terpasang di wajah sang putra setelah mengatakan, "Papa pernah bilang, kalo mau jadi orang baik gak boleh setengah-setengah." berhasil membuat keduanya tersenyum. Sebab mereka pun menyadari, Hyunsuk sudah tau kemana tujuannya dan tugas mereka sebagai orangtua adalah mendukungnya.

"Gue benci setiap kali lo ngelakuin sesuatu tanpa persetujuan gue, Hyunsuk!"

"Gue minta maaf kalo keputusan yang gue ambil ini bikin lo benci sama gue, Bitna. Tapi, gue gak nyesel sama sekali karena setelah ini, lewat keputusan yang gue ambil ini, gue jadi bisa terus ada di dekat lo." keputusan yang tak pernah terbayangkan oleh Hyunsuk, pun orangtuanya juga Bitna membuat mereka menyadari bahwa memang ada banyak hal tak terduga selama periode kehidupan manusia.

Dengan lelehan air mata yang tak kunjung berhenti, Bitna bangkit dari posisinya. Mengingat tulisan tangan Hyunsuk―yang dipenuhi tetesan darah kering― yang lelaki itu titipkan pada papanya untuk diberikan pada Bitna membuat perempuan itu mengulas senyum pedih.

"Tapi, gue juga mau berterimakasih sama lo, Hyunsuk." bibirnya membentuk kurva indah meski sesekali isakan terlontar dari  bibirnya. "Makasih karena lewat gigihnya tindakan lo, gue jadi sadar kalo masih ada banyak hal yang perlu gue hadapi di depan sana―terutama setelah kepergian lo."

"Gue janji bakal jaga hadiah dari lo baik-baik karena kayak yang lo bilang―lewat tulisan lo―, kita udah jadi bagian dari diri masing-masing sekarang. Dan, gue juga mau minta tolong sama lo. Tolong temui gue sesekali lewat mimpi supaya gue tau, udah sebahagia apa lo disana." Bitna mengulas senyum seolah yang diajak bicara memang merespon semua ucapannya.

Melangkah keluar dari kawasan pemakaman, Bitna teringat kalimat di ujung surat yang Hyunsuk tulis dengan berantakan.

"Gue sayang sama lo, Bitna.."

Bitna mengangguk sambil terisak, "Gue juga. Gue juga sayang sama lo, Hyunsuk..."

FIN.

Ib: 12 Cerita Glen Anggara & I Want to Eat Your Pancreas

Komentar

Postingan Populer