Another Life - Byun Baekhyun of EXO


"Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian!"

"Istriku..."

Lagi. 

Baekhyun kembali dihantui oleh mimpi itu lagi. Setelah hampir setahun dirinya tak mengalami potongan mimpi itu, dalam beberapa hari belakangan ia mengalaminya kembali.

Ada apa sebenarnya?

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Baekhyun mengusap pipinya yang lagi-lagi basah karena air mata.

Benar. Dia memang melihat dirinya disana. Menggenggam tangan seorang wanita yang bersimbah darah, juga dengan cincin yang tersemat di masing-masing jari manis mereka.

"Siapa dia?" Baekhyun menggeleng. "Bukan. Siapa sebenarnya gue di masa lalu?" 

Dering telpon di meja nakas membuyarkan lamunannya.

"Woy, buruan!"

Baekhyun mengusap telinganya begitu mendengar seruan di ujung sana. 

"Buruan kemana?" keningnya mengernyit. Karena seingat Baekhyun, ia tak punya janji pada siapapun di akhir pekannya.

"Gue 'kan semalem minta lo temenin ke bandara buat jemput ayang!"

"Emangnya gue setuju mau ikut?"

"Ayolah, Byun. Gue gak mungkin jemput dia sendirian apalagi dia masih ngambek sama gue~" yang di seberang mulai merengek.

Baekhyun merotasikan matanya meski Chanyeol―yang menghubunginya tak akan melihat itu. "I don't care, tho." 

Yang di seberang sana mendengus, "Please, Baek. Yang bisa pawangin Wendy kalo lagi ngambek 'kan cuma lo―karena lo sepupunya. Ya, ya, ya~"

Sebuah decakan keluar dari bibir Baekhyun. "Hm. Jemput gue nanti."

"Gue udah di depan sejak setengah jam lalu, sih."

Baekhyun menghembuskan napasnya, "Nice info. Gue mandi dulu kalo gitu."

"JANGAN LAMA!" 

Sebelum Chanyeol kembali bicara panjang lebar, Baekhyun segera memutus panggilannya. Kembali termenung sebentar sebelum kembali disadarkan oleh teriakan Chanyeol di depan pintu apartemennya.

"Si Caplang bener-bener, ya!"

Langsung ia bawa langkahnya menuju kamar mandi guna menghindari teriakan Chanyeol lagi.

"Oke, Baekhyun. Sekarang fokus selesaiin urusan lo sama pasangan love birds itu, baru setelah ini lo pikirin lagi makna mimpi lo." karena jujur, Baekhyun kesulitan fokus dengan kegiatannya beberapa hari belakangan sebab potongan mimpi yang dialaminya akan semakin intens muncul jika dirinya sedang kelelahan.

🕛

"Coba lo tanyain, deh. Adek gue bakal sampe jam berapa." Baekhyun menginterupsi kegiatan Chanyeol yang sejak tadi sibuk mondar-mandir di hadapannya sambil memperhatikan orang-orang yang keluar dari gate kepulangan.

"Gue bahkan udah coba hubungin dia waktu gue di depan apartemen lo tadi dan lo tau, gak satupun chat gue yang dibales sama dia." Chanyeol menghembuskan napas lelah sambil terus mengecek ponselnya, barangkali Wendy sudah sedikit lebih tenang dan mau mengabari keberadaannya.

Baekhyun menggeleng maklum―tak mau terlibat lebih jauh dalam hubungan antara sahabat dan sepupunya. "Kalo gitu gue mau cari minum dulu, deh. Ngantuk!"

Tanpa menunggu balasan Chanyeol atau sekedar berbasa-basi menanyakan apakah lelaki tinggi itu ingin sesuatu juga, Baekhyun melangkah keluar dari kawasan bandara untuk mampir ke cafe yang entah mengapa keberadaannya itu menarik perhatiannya.

"Gue yang gak tau ada cafe di sana atau emang baru dibuka, ya?" monolognya sambil menunggu lampu penyeberangan berubah hijau.

Tangannya mengeluarkan ponsel dari saku celana, mengecek barangkali Chanyeol sudah bertemu dengan Wendy karena jika begitu, dirinya akan meminta keduanya menyusul ke cafe saja.

Namun, lagi-lagi entah kenapa, seolah ada yang mencoba menarik perhatiannya di ujung jalan sana. Maka, Baekhyun segera mengalihkan perhatiannya dan pandangannya jatuh pada seorang perempuan di seberang jalan yang juga tengah menatap ke arahnya.

Baekhyun mengusap matanya sekali sebelum kembali memfokuskan pandangannya lagi, gue.. gak salah liat, 'kan?

Namun, karena lampu penyeberangan sudah berubah dan perempuan itu juga terlihat akan menyeberang ke arah berlawanan―ke arahnya― maka Baekhyun juga ikut menyeberang melanjutkan niatnya.

Gak mungkin!

Berulang kali pikirannya mensugesti kalau yang baru saja bertatap mata dengannya bukanlah perempuan yang sama dengan perempuan dalam mimpinya. 

Namun, saat kedua bahu mereka hampir bersentuhan karena arah mereka yang berpapasan, Baekhyun kembali merasakan hawa sedih itu. Hawa yang sama setiap kali ia mengalami mimpi menyedihkan itu.

Lagi.

Baekhyun kembali merasakan kalau pipinya lagi-lagi dibasahi oleh air mata yang tak ia ketahui sebabnya.

Sambil mengusap pipinya ia bergumam, "Wah, kayaknya gue perlu konsul ke psikolog habis ini."

🕛

Begitu memasuki cafe, Baekhyun mengedarkan pandangannya pada orang-orang yang mengisi ruang cafe ini. Tak ada yang istimewa sebenarnya kalau saja ia tak menemukan adik sepupunya tengah duduk menghadap jendela dengan gelas kopi dan sepiring kue di hadapannya.

Baekhyun menggeleng. Mengambil langkah menuju kasir untuk menyampaikan pesanannya, baru kemudian dirinya menghampiri Wendy yang terlihat melamun―atau menunggu orang lebih tepatnya.

"Kok disini?" Wendy sempat tersentak karena kemunculan Baekhyun yang tiba-tiba. Setelah berhasil menguasai dirinya, ia menggeleng.

"Berantem kenapa lagi, sih?" Baekhyun mendudukkan diri di seberang gadis pirang itu. Kepalanya mengangguk pada pelayan yang baru saja mengantarkan pesanannya.

Tak mendapat jawaban, Baekhyun mengendikkan bahu. Tangannya menyuapkan cookies yang tadi ia pesan sambil ikut melempar pandang ke arah yang sama dengan Wendy. "Gue dulu udah kasih warning buat gak pacaran sama temen gue. Liat sekarang, gue jadi terlibat dalam setiap masalah kalian dan gak bisa memihak salah satu doang."

"Kalo lo gak mau cerita, gue gak masalah." Baekhyun menjeda kalimatnya sebentar guna menelan cookiesnya, "Tapi tolong, buruan selesaiin biar gue juga gak ikut merasa bersalah karena udah bikin kalian ketemu."

Tak lama setelah Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, pintu cafe dibuka dengan kasarnya―Chanyeol pelakunya. Mata bulat lelaki itu mengedar cepat, mencari keberadaan sang kekasih hati yang menolak dihubungi sejak tadi pagi.

"BABE!" seru Chanyeol yang tanpa tahu malu berlari ke arah mereka dan langsung menarik Wendy ke dalam pelukannya. "Maaf.. maaf kalo aku bikin salah. Tapi jujur, itu kerjaannya Sehun sama Kai!"

Pelukannya semakin erat kala Wendy tak kunjung membalas ucapannya, sedangkan Baekhyun? Lelaki itu hanya menggelengkan kepala karena kembali menjadi saksi―tak―bisu dari kebucinan dua manusia di hadapannya.

"Jadi pulang gak, nih?" meski berucap begitu, matanya memandang tak tentu arah dengan tangannya yang sibuk mengaduk kopinya.

"Bentar, Kak!" Wendy mengurai pelukan Chanyeol, "Pertama, aku gak marah sama kamu karena aku tau lingkungan pertemanan kamu emang gitu. Aku diemin kamu biar kamu sadar, kalimat 'mau putus karena bosen' tuh gak bisa jadi bercandaan karena bisa aja habis itu aku beneran iyain bercandanya kamu." Wendy mengusap pipi Chanyeol sayang saat melihat lelaki itu tertunduk sambil menghela napas lega. 

"Janji deh, habis ini gak ada lagi bercandaan kayak gitu!" Chanyeol hendak meraih Wendy kembali ke dalam pelukan namun Baekhyun menahannya. 

"Nanti aja waktu di rumah―yang penting gak di depan mata gue." kesal Baekhyun, "Lagian, gue tadi nanyain mau pulang atau enggak tapi gak ada yang jawab!"

Wendy menghembuskan napas, "Bentar ya, Kakakku sayang. Aku lagi nungguin temen, tadi dia balik lagi ke bandara buat ambil kopernya yang ketinggalan. Nah, itu orangnya!" Wendy melambai ke arah pintu masuk yang membuat Chanyeol maupun Baekhyun ikut menoleh ke arah yang sama.

Lagi?!

"Kak Baekhyun, ini temenku. Hera namanya. Dia adik yang punya cafe ini."

Tangan yang terulur itu masih tak bersambut karena Baekhyun lagi-lagi jatuh ke dalam ingatannya tentang potongan mimpi yang perlahan terasa lengkap seperti potongan puzzle.

"Aku tak tau alasan Ayahanda menikahkanku dengan perempuan setengah lelaki sepertimu. Tapi yang perlu kau ketahui adalah, aku tak akan pernah mencintaimu."

-

"Kau perempuan paling kasar yang pernah aku temui. Tega sekali dirimu membunuh burung kecil tak berdaya itu!"

-

"Aku punya bunga. Bukankah perempuan cantik sepertimu juga meyukai bunga?" 

-

"Aku bahkan tidak pernah menginginkan tahta Ayahanda. Yang kuinginkan hanyalah bisa hidup tenang denganmu dan anak-anak kita nanti."

-

"Aku ingin membangun toko mainan ketika kita berhasil melakukan pelarian dari sini agar anak-anak kita bisa bermain sepuas mereka."

-

"Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian!"

-

"I-istriku..."

-

"Kak Baekhyun!" / "Baek!" 

Chanyeol dan Wendy berseru berbarengan ketika melihat wajah Baekhyun dibanjiri air mata sedangkan lelaki sipit itu hanya menatap kosong ke arah Hera.

"Lo kenapa?!" Chanyeol mengguncang panik bahu lelaki itu dan berhasil membuat Baekhyun kembali meraih kesadarannya.

"Hah, gue kenapa?" Baekhyun linglung. Kedua telapaknya dengan cepat ia gunakan untuk kembali mengusap wajahnya.

"Kak Baekhyun kenapa tiba-tiba nangis gitu, ada masalah?" Wendy bertanya panik sambil berusaha memeluk sepupunya itu. Pertanyaannya pun hanya berbalas gelengan karena Baekhyun segera melepaskan diri dari rengkuhannya.

"Kayaknya gue kecapekan, deh. Gue pulang duluan aja, ya?" Baekhyun segera bangkit dari posisinya, menghiraukan Hera yang sedari tadi menatap ke arahnya. Tanpa banyak bicara, ia melangkah keluar dari cafe itu dan menyetop taksi di sisi jalan.

Chanyeol yang melihat itu menggelengkan kepala, "Kayaknya Baekhyun emang lagi stres sama kerjaannya, deh. Soalnya dari tadi juga dia kebanyakan melamun." Chanyeol mengusap bahu sang terkasih guna menenangkan Wendy yang tadi panik akan kondisi kakaknya, kemudian mempersilahkan perempuan  yang sedari tadi hanya menatap bingung―begitu menurut Chanyeol― interaksi mereka bertiga untuk duduk di tempat Baekhyun tadi.

Hera yang dipersilahkan duduk pun hanya mengangguk sambil menatap jalanan dan taksi yang tadi ditumpangi Baekhyun dengan pandangan yang hanya bisa dirinya mengerti.

Entah itu di kehidupan sebelumnya maupun sekarang, aku tetap jadi orang pertama yang jatuh cinta padanya. Pangeran Eun―tidak, Baekhyun. Seseorang yang berhasil membuatku jatuh cinta di masa itu lagi-lagi berhasil membuatku terjatuh dalam perasaan menyenangkan sekaligus menyakitkan ini.

FIN.

P.S: dalam rangka pelampiasan dari akhir cerita Eun-Deok :)

Komentar

Postingan Populer