Found You - Park Jeongwoo of TREASURE
Langkahnya langsung dibawa melesat ke tengah lapangan, menghampiri teman-teman yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Hayo~ ngeliatin siapa lo tadi?" Jihoon menyenggol bahunya kali melihat juniornya ini kembali tak fokus pada permainannya.
Memilih acuh, Jeongwoo meninggalkan Jihoon yang masih berusaha mengorek informasi darinya. Dan ketika dirinya kembali tak fokus, bola yang tadinya berada di bawah kendalinya kini diambil alih oleh lelaki sipit itu.
"FOKUS, BRO!" ejek Jihoon yang dibalas dengusan malas oleh Jeongwoo.
🪐
Jeongwoo yang kembali melamun di sela-sela istirahat mereka kali ini berhasil menarik perhatian Doyoung. "Jeongwoo kenapa, deh? Tumbenan diem mulu." tanyanya heran. Karena, Jeongwoo yang Doyoung kenal adalah Jeongwoo yang tak pernah berhenti bicara bahkan ketika lelah sekalipun.
Yang ditanya pun tak menanggapi, membuat yang lain ikut mengalihkan fokus pada lelaki tan itu.
"Woi, Item!" Haruto yang memang duduk diantara Jeongwoo dan Jihoon pun akhirnya menyenggol bahu lelaki itu cukup kuat karena berhasil membuat Jeongwoo mendelik padanya.
"Apaan, sih?!" kesal Jeongwoo. Ini sudah yang kedua kali bahunya disenggol oleh dua manusia terjahil di timnya, membuatnya yang sudah kesal karena bingung dengan apa yang tengah dirasakan sekarang menjadi lebih kesal karena suasana hatinya yang tiba-tiba berubah sensitif.
"Dahlah, gue cabut duluan!" Jeongwoo memilih kabur dari sana daripada terus-menerus diinterogasi oleh teman-temannya. Boro-boro bisa menjawab, dirinya sendiri saja bingung dengan apa yang tengah ia rasakan.
"Jatuh cinta tuh kayaknya." Jihoon menyeletuk setelah memastikan bahu Jeongwoo hilang diantara pilar-pilar sekolah.
"HAH?!"
Lelaki dengan tahi lalat di ujung mata itu berkedip dua kali sambil mengusap kedua telinganya. "Biasa aja, dong!"
Haruto menyengir, "Sorry, Bang."
"Lagian, tiba-tiba banget ngomong gitu, 'kan kitanya kaget!" Doyoung ikut menyahuti yang diangguki Haruto.
"Liat aja nanti!" Jihoon mengendikkan bahunya sombong.
"Yaudah, gue mau balik ke kelas." dibawa tubuhnya bangkit meninggalkan para junior yang lagi-lagi menatap bingung ke arahnya.
🪐
Dua hari terlewati, Jeongwoo dan tim futsalnya memutuskan untuk kembali berlatih dan Jeongwoo kebagian untuk menyiapkan lapangan sebelum yang lain memulai latihan.
Jeongwoo dengan telaten memasang cone di tengah-tengah lapangan meski matanya sesekali melirik ke sisi lapangan, berharap kembali menemukan perempuan yang berhasil mencuri perhatiannya sejak dua hari lalu.
"Kenapa sih, Woo, kusut banget gue liat-liat tuh muka. Persis kayak lap tangan yang udah dipake dan dicuci berulang kali, LECEK!" terdengar nada mengejek dari kalimat yang Jihoon sampaikan padanya ketika tiba-tiba lelaki bermata sipit itu menginterupsi kegiatannya.
"Padahal kalo mau cerita mah tinggal cerita aja. I'm all ears, Bro!" tangannya menepuk bahu Jeongwoo pelan. Namun, karena tak kunjung mendapat sahutan, Jihoon mendengus kesal. Kaki jahilnya dengan sengaja menendang cone yang sudah disusun rapih oleh Jeongwoo sebelum akhirnya melangkah pergi dengan senyuman menyebalkannya.
"BANG JIHOON BRENGSEK!"
🪐
Setelah puas berkeringat ria, Jihoon mengajak para juniornya untuk makan di kantin dengan janji isi dompetnya sebagai jaminan. Awalnya, para junior bingung―karena kenyataannya, Jihoon terbilang orang yang perhitungan dalam hal keuangan dan itu pula yang menjadikannya terpilih sebagai pemegang kas tim futsal mereka. Namun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, mereka segera melesat pergi begitu mendapat instruksi. Meninggalkan Jihooon di belakang dan Jeongwoo yang mengikuti ogah-ogahan.
"Woo, jujur deh. Lo lagi suka ya sama orang?" Jihoon tiba-tiba meraih bahu Jeongwoo untuk dirangkul karena langkah kakinya yang lambat seperti orang tak bersemangat.
"Udah gue bilang, lo bisa cerita kalo emang bingung. Gaya bener bocah baru ngerasain cinta pake dipendem sendiri!" tangannya yang bebas berhasil mendarat di kening Jeongwoo yang dibalas teriakan murka oleh lelaki berkulit tan tersebut.
"MONYET!"
🪐
Selesai mengisi perut, Jihoon dkk keluar dari kantin seperti pasukan pawai. Ada yang mengobrol sambil saling merangkul, ada yang saling senggol-menyenggol bahu, juga ada yang sibuk melempar tatapan sinis ke arah temannya―lebih tepatnya Jeongwoo yang masih merasa kesal atas segala tingkah Jihoon padanya sepanjang hari ini.
Jihoon yang diberi tatapan begitu pun tak ambil pusing, matanya hanya menatap lurus ke depan sambil merangkul bahu Jeongwoo meski yang dirangkul berulang kali berusaha melepaskan diri.
Sampai ketika Jeongwoo berhenti menolak, Jihoon tertawa karena mengira adiknya itu memilih mengalah. Namun nyatanya salah, Jeongwoo berhenti menolak rangkulannya karena kini pandangannya terkunci ke depan, dimana terlihat perempuan dengan wajah memerah―mungkin karena sinar matahari yang terik hari ini― tengah melangkah ke arah mereka.
GOTCHA!
Jihoon tersenyum senang ketika akhirnya berhasil menemukan siapa gerangan perempuan yang berhasil mengalihkan kecintaan seorang Jeongwoo dari dunia futsal.
"Hei!" tangan Jihoon terulur ke depan, menghalangi langkah terburu perempuan itu ketika melintasi mereka.
Yang dihadang hanya menatap bingung ke arah Jihoon, Jeongwoo, juga ke arah teman-teman mereka yang ikut melempar tatapan bingung ke arahnya.
"Iya, kenapa, Kak?" tanyanya pelan.
Jihoon melirik Jeongwoo sekilas, kemudian kembali menatap perempuan di hadapannya. "Gue punya temen dan dia bilang dia suka sama lo." Jihoon kembali melirik Jeongwoo yang lagi-lagi berusaha melepaskan diri dari rangkulannya.
"Kalo semisal dia deketin lo, lo bakal izinin atau enggak?" lanjut Jihoon. Jeongwoo heran, bagaimana bisa seniornya ini membaca semua sikapnya. Entah memang Jihoon yang terlalu peka atau Jeongwoo yang terlalu bodoh jika sudah berurusan dengan cinta.
"Huh, gimana, Kak?" tiba-tiba ditodong dengan pertanyaan seperti itu di siang bolong membuat perempun dengan pipi merona itu kesulitan menanggapi omongan dari kakak kelasnya ini.
"Temen gue cakep, loh. Yakali ditolak." tambah Jihoon lagi.
Yang diajak bicara hanya tersenyum canggung dan ekspresi itu berhasil ditangkap oleh Jeongwoo. "Udah-udah, gak usah ditanggepin. Lo mau ke kantin, 'kan? Sono dah, sono!" Jeongwoo memberi kode agar perempuan itu segera pergi yang dibalas dengan anggukan pelan.
Namun, baru mengambil satu langkah, perempuan itu kembali menghentikan langkahnya. "Untuk pertanyaan Kakak yang tadi, maaf, saya gak bisa."
Jeongwoo yang mendengarnya merasa tertarik untuk menanyakan alasannya, "Kenapa?"
Perempuan itu tersenyum sekilas ke arah Jeongwoo sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke bawah. "Pertama, karena saya gak kenal sama teman yang kakak maksud." ia menarik napasnya pelan sebelum kembali melanjutkan, "Dan yang paling penting, saya gak mau pacaran. Saya mau jaga diri saya buat pasangan saya nanti, Kak." jelasnya.
Tak memperoleh respon apapun lagi, perempuan itu menganggukkan kepala tanda mengundurkan diri dari sana. Dan tepat setelah perempuan itu menghilang, Jihoon kembali bersuara. "Susah, Woo!" serunya, "Nyerah aja udah, nyerah!"
Selepas
berucap begitu, Jihoon meninggalkan Jeongwoo yang masih sibuk dengan
pikirannya, pun dengan para juniornya yang bingung atas apa yang baru
saja terjadi dan hanya menatap lurus ke arah langkah yang diambil senior
mereka.
Jihoon pun merasa bahwa dirinya hanya boleh ikut campur sebatas ini saja. Soal bagaimana kedepannya nanti, itu sudah bukan tanggungjawabnya lagi. Setidaknya, Jihoon sudah berusaha membuat Jeongwoo dan perempuan itu saling menyapa meski lewat cara yang tak biasa.
🪐
7 tahun kemudian
Aruna tekejut ketika ayahnya meminta dirinya untuk pulang di sela waktu kerjanya. Padahal dulu, ketika dirinya berpamitan bahwa ia tak akan sering kembali, ayahnya tak tampak risau sama sekali.
Begitu sampai di rumah, Aruna disambut dengan senyum hangat dari sang ibu dan ayah. Setelah beristirahat sebentar, malamnya Aruna diminta untuk berpakaian rapih karena rumah mereka akan kedatangan tamu istimewa.
Meski bingung, Aruna tetap menuruti kemauan kedua orangtuanya. Berpakaian yang rapih kemudian kembali diminta menunggu di ruang tengah kala yang ditunggu masih disambut di depan rumah. Sepuluh menit Aruna habiskan untuk merenung, akhirnya sang ayah kembali diikuti oleh seorang lelaki yang Aruna rasa dirinya tak asing dengan presensinya.
Entah kenapa, Aruna tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar cepat kala suasana di ruangan itu terasa asing, namun tetap hangat dan menggelitik. Kepalanya masih tertunduk dengan mata yang mencoba mencuri tatap, siapa gerangan lelaki yang kini duduk di hadapan.
"Hai, Aruna. Ini gue, Jeongwoo." benar, Jeongwoo! Lelaki yang tujuh tahun lalu menghalangi jalan Aruna ketika hendak ke kantin bersama teman-teman juga senior tengilnya.
Apa alasan lelaki ini kembali ke hadapannya sekarang?
Jeongwoo menarik napasnya, "Kita ketemu lagi setelah tujuh tahun terlewati." lelaki berkulit tan itu mengusap telapak tangannya yang tiba-tiba dibasahi oleh keringat. "Ayah sama Ibu udah tau tujuan gue dateng kesini buat apa. Tapi tetep aja, gue butuh jawaban dari lo buat melanjutkan ke tahap selanjutnya."
"Dulu, Bang Jihoon bilang ke gue buat nyerah aja karena menurut dia, bakal susah buat dapetin lo. Dan ya, gue akui kalo itu bener karena nyatanya, gue butuh waktu tujuh tahun buat ketemu lo lagi." Jeongwoo beralih mengusap lututnya yang tertutup celana kain saking gugupnya. "Tapi, gak ada kata menyerah dalam kamus gue. Karena untuk itu, gue ada di hadapan lo dan kedua orangtua lo sekarang."
Lelaki pemilik senyum sehangat mentari pagi itu menarik napasnya lagi, "Gue, Jeongwoo, datang ke hadapan lo sekarang bukan buat ngajakin lo pacaran lagi. Tapi, gue datang buat minta izin ke lo dan orangtua lo buat menaklukkan hati anak perempuan mereka lewat hubungan yang lebih serius lagi." setelah dirasa dirinya akan sampai di ujung kalimat, Jeongwoo memberanikan diri untuk menatap dua orang yang melempar tatapan hangat ke arahnya, pun sekilas melirik Aruna yang masih sibuk dengan kegiatan menunduknya, menyembunyikan semburat merah yang perlahan muncul mewarnai pipi tembamnya.
"Jadi, Aruna.. lo mau gak wujudin mimpi yang udah lo simpen sejak lama.. bareng gue?" selesai mengucapkan kalimatnya, Jeongwoo kembali menunduk dengan bahu yang kaku. Ia lega karena apa yang ingin ia ucapkan berhasil tersampaikan, meski jantungnya berdebar menanti jawaban apa yang akan Aruna berikan.
Ayah dan ibu yang melihat sepasang anak manusia di hadapan mereka kini sama kakunya hanya tersenyum tenang. Semuanya terserah Aruna sekarang. Putri mereka sudah dewasa, sudah pandai menentukan keputusan apa yang akan diambil untuk masa depannya.
Keheningan menyelimuti ruang tengah cukup lama.
Cukup lama untuk membuat Jeongwoo berpikir akan segala skenario terburuknya.
Setelah meyakinkan diri, Aruna mengangkat kepala untuk menatap ayah dan ibu yang mengangguk meyakinkannya. Menarik napas sekali lagi, Aruna mengalihkan tatapannya ke depan. Tepat ke arah bahu Jeongwoo yang terlihat kaku menanti jawaban darinya.
"Kak Jeongwoo.." panggilnya pelan. Sedangkan yang dipanggil menoleh dengan napas tertahan, takut jawaban yang diberikan tak sesuai harapan.
"Aruna terima lamaran dari Kak Jeongwoo.." Aruna melempar senyum ke arah Jeongwoo yang menghela napas lega diiringi senyum bahagia.
Karena sebenarnya, jauh sebelum Jeongwoo dkk menghalangi jalannya saat itu, Aruna sudah lebih dahulu jatuh pada pemilik senyum sehangat mentari itu ketika membantunya mencari kelas saat dirinya baru menginjak kelas satu SMA dulu.
FIN.



Komentar
Posting Komentar